Minggu, 12 Februari 2012

PEMERIKSAAN FISIK REVIEW OF SYSTEM (ROS)




Tujuan Instruksional Umum (TIU) :
Setelah melaksanakan tatap muka selama 8 jam pertemuan (4 jam teori, 2 jam tutorial, 2 jam praktik laboratorium), mahasiswa dapat mendemonstrasikan pemeriksaan fisik menggunakan metode Review of System (ROS).
Tujuan Instruksional Khusus (TIK) :
Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran, mahasiswa dapat :
1.       Mengetahui teknik pemeriksaan fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, dan Auskultasi)
2.       Mengetahui teknik pemeriksaan fisik metode Review of System (ROS) pada system kardiovaskuler, pernapasan, pencernaan, penginderaan, integumen, dan musculoskeletal
3.       Memahami teknik pemeriksaan fisik metode Review of System (ROS) pada system kardiovaskuler, pernapasan, pencernaan, penginderaan, integument, dan musculoskeletal
4.       Melaksanakan teknik pemeriksaan fisik metode Review of System (ROS) pada system kardiovaskuler, pernapasan, pencernaan, penginderaan, integument, dan musculoskeletal
A.      Sistem Kardiovaskuler
1.       Anamnesis
a.       Keluhan :
·         Nyeri dada;
·         Sesak napas;
·         Edema;
·         Palpitasi;
·         Sinkop;
·         Kelelahan;
·         Stroke;
·         Penyakit vaskular perifer
b.      Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan :
·         Faktor risiko penyakit jantung iskemik
·         Riwayat demam reuma
·         Pengobatan gigi yang baru dilakukan
·         Murmur jantung yang telah diketahui
·         Penyalahgunaan obat intravena
c.       Riwayat keluarga
d.      Riwayat :
·         IHD (Ischemic Heart Disease)
·         Hiperlipidemia
·         Kematian mendadak
·         Kardiomiopati
·         Penyakit jantung kongenital
e.      Riwayat sosial
·         Apakah pasien merokok atau pernah merokok?
·         Bagaimana konsumsi alkohol pasien?
·         Apa pekerjaan pasien?
·         Bagaimana kemampuan olahraga pasien?
·         Adakah keterbatasan gaya hidup akibat penyakit?
f.        Obat-obatan
·         Tanyakan obat-obatan untuk penyakit jantung dan obat yang memiliki efek samping ke jantung
2.       Pemeriksaan fisik
a.       Apakah pasien tampak sakit ringan atau berat? Apakah pasien nyaman/distres/ kesakitan/cemas?
b.      Apakah pasien memerlukan resusitasi segera?
c.       Pertimbangkan perlunya penggunakan oksigen, akses intravena, atau pemantauan EKG
d.      Apakah pasien tampak pucat, sianosis, sesak, batuk, dan sebagainya?
e.      Berapa suhu pasien?
f.        Perhatikan adanya parut, sputum, dan sebagainya.
g.       Stigmata hiperkolesterolemia (arkus, xantelasma) dan kebiasaan merokok?
Tangan
-          Adakah jari tabuh (clubbing), bintik perdarahan, dan perfusi perifer yang baik?
-          Pemeriksaan fisik
Nadi
-          Berapa kecepatan, irama, volume, dan sifat nadi radialis?
-          Nilailah sifat nadi di pembuluh darah besar (brakialis, karotis, femoralis).
-          Apakah semua denyut perifer teraba?
-          Adakah perlambatan radialis-femoralis?
-          Pemeriksaan fisik
Tekanan darah
-          Bagaimana tekanan sistolik, diastolik, serta tekanan nadi?
-          Adakah penurunan TD postural?
-          Untuk mengukur TD diastolik gunakan bunyi korotkoff V (saat bunyi menghilang)
-          Pemeriksaan fisik
Tekanan vena jugularis
}  Berapa tinggi JVP? Sebutkan dalam sentimeter di atas angulus sternalis (atau klavikula) bila sudut 45o)
}  Adakah refluks hepatojugularis (atau tes abdominojugularis)? (Peningkatan JVP saat dilakukan penekanan kuat pada kuadran kanan atas abdomen).
}  Adakah gelombang JVP abnormal (misalnya gelombang meriam)?
}  Lakukan inspeksi mulut, lidah, gigi, dan prekordium (cari adanya jaringan parut dan pulsasi abnormal).
}  Lakukan palpasi untuk posisi dan sifat denyut apeks, adakah heave ventrikel kanan, adakah thrill?
}  Lakukan auskultasi jantung
}  Dengarkan bunyi jantung pertama, kedua (apakah terpisah secara normal?)
}  Dengarkan bunyi jantung tambahan (adakah gallop?), murmur sistolik, murmur diastolik, gesekan (rub), klik serta bruit karotis dan femoralis.
}  Lakukan auskultasi dengan posisi lateral kiri (khususnya untuk murmur mitral) dan membungkuk ke depan saat ekspirasi (Khususnya untuk murmur diastolik awal pada regurgitasi aorta).
}  Lakukan auskultasi paru: adakah efusi pleura atau ronki?
}  Adakah edema perifer (pergelangan kaki, tungkai, sakrum)?
}  Lakukan palpasi denyut perifer:
       Radialis;
       Brakialis;
       Karotis;
       Femoralis;
       Poplitea;
       Tibialis posterior;
       Dorsalis pedis.
}  Lakukan palpasi hati. Adakah pembesaran?
}  Apakah berdenyut (menunjukkan regurgitasi trikuspid)?
}  Adakah asites?
}  Funduskopi : adakah perubahan akibat hipertensi?

Pemeriksaan Denyut Arteri
-          Penemuan terpenting sewaktu kita memeriksa percabangan arteri perifer adalah denyut yang berkurang atau tidak ada
-          Denyut arteri perifer yang secara rutin diperiksa adalah radial, brakial, femoral, poplitea, dorsalis pedis, dan tibialis posterior
Pemeriksaan Denyut Radial
-          Pemeriksa harus berdiri di depan pasien
-          Denyut radialis diperiksa oleh pemeriksa dengan memegang kedua pergelangan tangan pasien dan mempalpasi denyut radial dengan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis
-          Pemeriksa memegang pergelangan tangan kanan pasien dengan jari kiri dan pergelangan tangan kiri dengan jari kanan
-          Kesimetrisan denyut kemudian dibandingkan dalam hal waktu dan kekuatan
Palpasi Denyut Brakial
-          Karena denyut brakial lebih kuat ketimbang denyut digital, pemeriksa harus memakai ibu jarinya untuk  mempalpasi denyut brakial pasien
-          Arteri brakialis dapat diraba di bagian medial tepat di bawah otot atau tendo muskulus biseps.
-          Pemeriksa masih dalam posisi berdiri di depan pasien, dan kedua arteri brakialis dapat diraba secara serentak
-          Tangan kiri pemeriksa memegang lengan kanan pasien sedangkan tangan kanan pemeriksa memegang lengan kiri pasien
-          Kalau pemeriksa sudah meraba denyut brakial dengan ibu jarinya, ia harus melakukan penekanan progresif sampai kekuatan sistolik maksimal dapat diraba
Palpasi Denyut Femoral
-          Denyut femoral diperiksa dengan pasien berbaring pada punggungnya dan pemeriksa di sisi kanan pasien
-          Sudut lateral dari trigonum rambut pubis diamati dan dipalpasi
-          Arteri femoral berjalan melintang melalui sudut trigonum rambut pubis di bawah ligamentum inguinal dan di pertengahan antara simfisis pubis dan spina iliaka anterior superior
-          Kedua denyut femoral dapat dibandingkan secara serentak
-          Jika salah satu denyut femoral berkurang atau tidak ada, lakukanlah auskultasi untuk mendengar adanya bruit
-          Diafragma stetoskop diletakkan di atas arteri femoral
-          Adanya bruit mungkin menunjukkan penyakit aorto-ilio-femoral obstruktif
Palpasi Denyut Poplitea
-          Arteri poplitea seringkali sulit diperiksa
-          Tiap arteri diperiksa secara terpisah
-          Ketika pasien berbaring terlentang, pemeriksa meletakkan kedua ibu jarinya pada patela dan jari-jari lain dari kedua tangan pada ruang poplitea di belakang
-          Pemeriksa harus memegang tungkai itu dalam fleksi ringan
-          Pasien jangan diminta untuk mengangkat tungkainya karena ini hanya akan memperkeras otot-otot dan mempersulit usaha meraba denyut poplitea.
-          Kedua tangan harus menekan pada fosa poplitea
-          Tekanan kuat diperlukan untuk meraba pulsasi itu
Palpasi Denyut Dorsalis Pedis
-          Denyut dorsalis pedis sebaiknya diraba dengan kaki dorsofleksi
-          Arteri dorsalis pedis berjalan sepanjang garis dari retinakulum ekstensor pergelangan kaki ke suatu titik tepat lateral tendo ekstensor ibu jari kaki
-          Denyut dorsalis pedis dapat diraba secara serentak
Palpasi Denyut Tibialis Posterior
-          Arteri tibialis posterior dapat diraba sewaktu ia melingkar di sekitar maleolus medial selama fleksi plantar
-          Kedua arteri ini dapat diperiksa secara serentak
-          Meskipun 15% orang tidak mempunyai denyut tibialis posterior, tanda paling sensitif untuk penyakit oklusif arteri perifer pada pasien berumur di atas 60 tahun adalah tidak adanya denyut tibialis posterior.
Penentuan Derajat Denyut
-          0      Tidak ada
-          1      Melemah
-          2      Normal
-          3      Meningkat
-          4      Meloncat (Bounding)

Pengukuran tekanan darah
1.       Langsung dengan kateter intra arterial
2.       Tidak langsung dengan sfigmomanometer
-          Terdiri dari kantong karet yang dapat digembungkan di dalam suatu penutup kain, bola karet memompa kantong, manometer untuk mengukur tekanan di dalam kantong karet
-          Deteksi bunyi Korotkoff secara auskultasi di atas arteri yang ditekan.
-          Bunyi Korotkoff adalah bunyi bernada rendah yang berasal dari pembuluh darah yang berkaitan dengan turbulensi yang dihasilkan dengan menyumbat arteri secara parsial dengan manset tekanan darah
-          Fase 1 : tekanan penyumbat turun sampai tekanan darah sistolik, suara mengetuknya jelas dan secara berangsur-angsur intensitasnya meningkat ketika tekanan penyumbat turun
-          Fase 2 : tekanan kira-kira 10 – 15 mmHg dibawah fase 1 dan terdiri dari suara mengetuk yang diikuti dengan bising (tanda auskultasi seperti meniup yang dihasilkan oleh turbulensi di dalam aliran darah, dapat berasal dari jantung atau pembuluh darah akibat perubahan hemodinamik).
-          Fase 3 : tekanan penyumbat turun cukup banyak sehingga sejumlah besar volume darah dapat mengalir melalui arteri yang tersumbat sebagian, bunyinya serupa dengan bunyi fase 2 kecuali bahwa hanya terdengar bunyi ketukan
-          Fase 4 : terjadi bila intensitas suara tiba-tiba melemah ketika tekanan mendekati tekanan darah sistolik.
-          Fase 5 : bunyi sama sekali menghilang
-          Tekanan darah normal dewasa 140 mmHg  (sistolik) dan 95 mmHg (diastolik)
-          Manset harus dilingkarkan dengan sempit di sekeliling lengan dengan tepi bawah 1 inci di atas fossa antekubiti
-          Manset 20% lebih lebar ketimbang diameter ekstremitas
-          Kantong karet harus terletak di atas arteri
-          Manset terlalu kecil, lengan besar, hasil pengukuran tekanan darah lebih tinggi
Pengukuran Tekanan Darah Palpasi
-          Pasien berbaring dalam posisi supinasi dengan nyaman
-          Kantong manset diletakkan di atas arteri brakialis kanan
-          Jika lengannya terlalu gemuk, pakailah manset paha
-          Lengan sedikit difleksikan, dan disokong kira-kira setinggi jantung
-          Untuk menentukan tekanan darah sistolik secara memadai, mula-mula tekanan darah diperiksa dengan cara palpasi.
-          Arteri brakialis atau radialis dipalpasi sementara manset dipompa di atas tekanan nadi yang diperlukan untuk menghilangkan denyut nadi
-          Sekrup yang dapat diputar dibuka perlahan-lahan untuk mengurangi tekanan di dalam kantong karet secara lambat
-          Tekanan sistolik diketahui dengan timbulnya kembali denyut brakial
-          Segera setelah denyut teraba, sekrup itu dibuka untuk mengurangi tekanan kantong karet dengan cepat.
Pengukuran Tekanan Darah Auskultasi
-          Memompa manset kira-kira 20 mmHg di atas tekanan sistolik yang ditentukan dengan palpasi
-          Diafragma stetoskop harus diletakkan di atas arteri sedekat mungkin dengan tepi manset, sebaiknya tepat di tepi bawah manset
-          Mansetnya dikempiskan secara perlahan-lahan sambil mengevaluasi bunyi Korotkoff
-          Tekanan darah sistolik, titik meredup, titik menghilang ditentukan
-          Tekanan darah sistolik adalah titik dimana terdengar bunyi mengetuk pertama
-          Tekanan darah diastolik adalah titik dimana bunyi menghilang




B.      SISTEM PERNAPASAN
1.       Anamnesis
a.       Keluhan
-          Sesak
-          Batuk
-          Hemoptisis
-          Nyeri dada
b.      Riwayat penyakit dahulu
-          Apakah pasien sebelumnya memiliki kelainan pernapasan?
-          Bagaimana pemahaman pasien mengenai keadaannya dan kepatuhan pada terapi?
-          Apakah pasien pernah masuk rumah sakit karena sesak napas?
-          Apakah pasien memerlukan ventilasi?
-          Adakah kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan foto rontgen toraks?
g.       Riwayat lain
1)      Obat-obatan
-          Obat apa yang sedang dikonsumsi pasien?
-          Apakah baru-baru ini ada perubahan penggunaan obat?
-          Adakah respons terhadap terapi terdahulu?
-          Apakah pasien mengkonsumsi tablet, inhaler, nebuliser, atau oksigen?
-          Riwayat lain
2)      Alergi
-          Adakah alergi obat/antigen lingkungan?
3)      Merokok
-          Apakah pasien saat ini merokok?
-          Apakah pasien pernah merokok?
-          Jika ya, berapa banyak?
h.      Riwayat keluarga dan sosial
-          Pernahkah pasien terpajan asbes, debu, atau toksin lain?
-          Apa pekerjaan pasien?
-          Adakah riwayat masalah pernapasan dalam keluarga?
-          Apakah pasien memelihara hewan, termasuk burung?
2.       Pemeriksaan fisik
-          Apakah pasien tampak sakit ringan atau berat?
-          Apakah jalan napas adekuat? Jika tidak, betulkan posisi kepala, pasang alat bantu jalan napas oral, masker laring, atau intubasi endotrachea
-          Apakah pasien bernafas? Jika tidak, pastikan jalan napas terbuka, berikan oksigen tambahan dan ventilasi
-          Apakah sirkulasi adekuat?
-          Apakah pasien sianosis (perifer atau sentral)? Jika ada sianosis, hipoksemia pada oksimetri nadi, distress pernapasan, atau pasien tampak sakit berat, berikan oksigen melalui masker wajah. (Penggunaan oksigen konsentrasi tinggi hanya relevan dengan pasien PPOK yang mungkin memiliki dorongan ventilasi hipoksik)
-          Bagaimana laju dan pola pernafasan?
-          Adakah sesak napas saat istirahat, saat bergerak, berpakaian, atau berjalan menuju sofa?
-          Bagaimana penampilan umum pasien? Kaheksia? Kurus? Tanda-tanda obstruksi SVC (Kenaikan JVP menetap, dilatasi vena superfisial dada, bengkak pada wajah)?
-          Apakah pasien nyaman, kesakitan, lelah, ketakutan, atau tertekan?
-          Periksa tanda-tanda distres pernapasan: pernapasan cepat, penggunaan otot bantu pernapasan, rasa tertarik di trakea, retraksi interkostalis, gerakan abdomen paradoksal, mengerucutnya bibir, atau menurunnya laju pernapasan saat pasien merasa lelah.
-          Adakah suara mengi yang terdengar jelas (terutama ekspirasi) atau stridor (terutama inspirasi)?
-          Adakah jari tabuh atau nyeri tekan pada pergelangan tangan (osteoartropati hipertrofik), pewarnaan nikotin pada jemari, atau flap (konsisten dengan retensi karbon dioksida)?
-          Periksa denyut nadi pasien dan JVP, tanda-tanda limfadenopati, mulut, dan hidung
-          Bagaimana posisi trakea? Adakah deviasi?
Dada
-          Periksa dada bagian anterior dan posterior dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
-          Bandingkan sisi kiri dan kanan
Inspeksi
-          Bentuk dinding dada dan tulang belakang
-          Jaringan parut (radioterapi atau pembedahan)
-          Vena menonjol (obstruksi SVC)
-          Laju dan irama pernapasan
-          Pergerakan dinding dada (Simetris, Hiperekspansi)
-          Retraksi interkostalis
-          Pemeriksaan fisik
Palpasi
-          Periksa adanya nyeri tekan, posisi denyut apeks, dan ekspansi dinding dada
Perkusi
-          Periksa adanya bunyi tumpul atau hiperresonansi
-          Pemeriksaan fisik
Auskultasi
-          Gunakan bagian diafragma stetoskop
-          Dengarkan suara napas, pernapasan bronkial, dan suara tambahan (ronki, gesekan, mengi)
-          Suara napas yang menurun/tidak terdengar terjadi pada efusi, kolaps, konsolidasi dengan hambatan jalan napas, fibrosis, pneumotoraks, dan naiknya diafragma.
-          Pemeriksaan fisik
-          Pernapasan bronkial bisa ditemukan pada konsolidasi, kolaps, dan fibrosis padat di atas efusi pleura
-          Periksa resonansi vokal dan/atau fremitus vokal













3.       SISTEM PENCERNAAN
Pada anamnesis, keluhan umum sistem pencernaan yang lazim ditemukan yakni :
-          Nyeri abdomen;
-          Muntah;
-          Hematemesis (muntah darah);
-          Sulit menelan (disfagia);
-          Gangguan cerna atau dispepsia;
-          Diare;
-          Perubahan kebiasaan buang air besar;
-          Bengkak atau benjolan pada perut;
-          Penurunan berat badan atau gejala akibat malabsorpsi;
-          Melena (tinja hitam seperti ter akibat darah  dari saluran cerna bagian atas) atau darah per rektum
-          Penting untuk menilai adakah penyakit lokal dan adakah efek sistemik seperti penurunan berat badan atau malabsorpsi
Sedangkan pada riwayat penyakit dahulu, data yang perlu dikumpulkan adalah :
-          Apakah pernah mengalami penyakit saluran cerna sebelumnya?
-          Apakah pernah dilakukan operasi pada daerah perut sebelumnya?
-          Tentukan riwayat konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok pasien. Riwayat konsumsi alkohol yang rinci sangat penting.
-          Obat apa yang pernah dikonsumsi oleh pasien?
-          Pernahkah pasien mendapat terapi untuk penyakit saluran cerna, termasuk terapi yang mungkin merupakan penyebab gejala (seperti OAINS dan dispepsia)?
Riwayat keluarga perlu dikaji :
-          Adakah kondisi turunan yang mempengaruhi sistem gastrointestinal?






Pemeriksaan fisik :
Pandanglah pasien
-          Apakah pasien tampak sakit ringan atau berat, nyaman atau kesakitan, dapat bergerak dengan mudah atau berbaring tak bergerak?
-          Adakah pucat, ikterus, atau limfadenopati?
-          Apakah pasien kurus atau obesitas?
-          Cari tanda-tanda sistemik dari penyakit (demam, takikardia, hipotensi, hipotensi postural, takipnea, dehidrasi, dan hipovolemia).
-          Cari tanda-tanda penyakit hati kronis (spider nevi), ginekomastia, memar, hipertrofi parotis, kontraktur Dupuytren, ekskoriasi, dan flap metabolik (asterixis).
Periksa kedua tangan
-          Adakah jari tabuh, eritema palmaris, kontraktur Dupuytren, atau flap metabolik (asterixis)?
-          Pemeriksaan fisik
Periksa mulut dan lidah
-          Cari limfadenopati di daerah supraklavikular dan di daerah lain (nodus Virchow atau tanda Troissier-limfadenopati supraklavikular kiri akibat penyebaran karsinoma abdomen).
-          Pastikan pasien merasa hangat, nyaman, dan perutnya cukup terlihat.
-          Pasien harus berbaring mendatar dengan kepala diganjal.
-          Buatlah pasien merasa santai.
Periksa abdomen
-          Lakukan inspeksi abdomen :
¡  Adakah distensi, asimetris, massa, jaringan parut, gerakan peristaltis yang jelas, dan stoma?
¡  Mintalah pasien batuk, menarik napas dalam, dan lihatlah baik-baik
-          Lakukan palpasi abdomen
¡  Tanyakan jika ada nyeri atau nyeri tekan, sangat berhati-hatilah terutama jika ada.
¡  Lihat wajah pasien saat memeriksa adanya nyeri atau nyeri tekan
¡  Lakukan palpasi dengan lembut menggunakan ujung jari ± sisi ulnaris dari jari telunjuk dan kemudian lebih dalam
¡  Lakukan palpasi semua area abdomen
¡  Setiap massa atau kelainan harus dicatat dengan teliti mengenai ukuran, posisi, bentuk, konsistensi, lokasi, tepi, mobilitas saat ekspirasi, dan pulsatilitas
¡  Adakah nyeri tekan? Jika ya, tentukan area tersebut dengan hati-hati
¡  Adakah kekakuan?
¡  Adakah nyeri lepas (nyeri saat tangan pemeriksa diangkat dengan cepat setelah menekan, namun sebagian dokter memilih untuk menggunakan perkusi untuk meminimalkan nyeri)?
¡  Adakah tahanan?
-          Lakukan auskultasi abdomen
¡  Lakukan auskultasi untuk mendengarkan bising usus (terdengar/tidak, normal/abnormal, hiperaktif, bernada tinggi, berdenting (menunjukkan obstruksi)
-          Adakah asites?
¡  Distensi abdomen, pekak pada pemeriksaan pekak berpindah?
Periksa organ spesifik
-          Periksa hati
¡  Adakah pembesaran? Apakah teraba di tepi bawah kosta kanan?
¡  Lakukan palpasi dengan sisi ulnaris dan bantalan jari telunjuk sambil menarik napas perlahan. Mulailah di fosa iliaka kanan
¡  Ukurlah, tentukan batas atasnya dengan perkusi. Apakah hati sedikit membesar, lunak, pulsatil, keras, atau iregular (menunjukkan tumor)?
-          Periksa ginjal
¡  Apakah ginjal teraba? Memantul? Adakah pembesaran rata atau iregular (pertimbangkan penyakit ginjal polikistik), bruit?
-          Periksa adanya aneurisma aorta
¡  Ukuran? Pulsatil?
-          Periksa hernia inguinalis dan femoralis?
¡  Timbul saat batuk? Irreversibel?
-          Periksa genetalia eksterna
¡  Adakah nyeri tekan testis, benjolan, pembesaran, atau sekret penis?
¡  Adakah benjolan, ulkus, sekret, atau prolaps vulva?

-          Lakukan pemeriksaan colok dubur?
¡  Adakah nyeri tekan, massa abnormal, pembesaran prostat, tinja, darah, atau lendir?
-          Pemeriksaan vagina
¡  Pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan vagina
-          Pemeriksaan urin dan feses
¡  Pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan urin (dipstik ± mikroskopik) dan feses (darah samar).

4.       SISTEM PENDENGARAN
Gejala utama penyakit telinga
-          Kehilangan pendengaran
-          Pusing atau sensasi berputar
-          Telinga berdenging atau bunyi mendengung
-          Pengeluaran cairan
-          Nyeri telinga
-          Gatal
Alat-alat yang dibutuhkan untuk pemeriksaan system pendengaran :
-          Otoskop
-          Spekulum
-          Lampu senter kecil
-          Garputala 512 Hz
-          Iluminator nasal yang dilekatkan pada otoskop
-          Spekulum hidung
-          Telinga
Mulai dengan periksa telinga yang tidak mempunyai keluhan.  Pemeriksaan telinga mencakup :
-          Pemeriksaan luar
-          Ketajaman pendengaran
-          Pemeriksaan otoskopik
Inspeksi struktur telinga luar :
-          Pinna : ukuran, posisi, bentuk, ditengah, sesuai besarnya wajah dan kepala
-          Lesung kecil depan tragus : sisa arkus brakialis pertama
-          Telinga luar : deformitas, nodul, peradangan, lesi
-          Tofi : endapan kristal asam urat à gout, nodul keras di heliks atau antiheliks
-          Pengeluaran sekret putih kadang berkaitan dengan tofi
-          Telinga kembang kol : pinna yang berlekuk sebagai akibat trauma yang berulang-ulang
-          Inspeksi pengeluaran cairan, catat warna, konsistensi, dan kejernihan.
Palpasi Struktur Telinga Luar
-          Pinna : nyeri tekan, pembengkakan, nodulus
-          Tarik pinna ke atas dan ke bawah, atau tekan pada tragus : nyeri à infeksi telinga luar
-          Telinga posterior : jaringan parut, pembengkakan
-          Tekan ujung mastoid à tidak nyeri (normal)
-          Nyeri à proses supuratif os mastoid
Ketajaman Pendengaran
-          Tutup satu kanalis eksternus dengan menekan tragus
-          Berbisik ke telinga lainnya
-          Sembunyikan mulut : menghindari pembacaan gerak bibir oleh pasien
-          Bisikkan kata seperti “park”, “dark”, “day dream” pada telinga yang tidak ditutup dan apakah pasien dapat mendengarnya.
-          Diulang pada telinga yang lain
-          Menanyakan pasien apakah dapat mendengar jam berdetik di dekat telinga.
-          Uji garputala lebih tepat dan seharusnya dilakukan tanpa memperhatikan hasil tes berbisik
-          Garputala yang baik digunakan 512 Hz
-          Dipegang tangkainya, ujungnya dipukulkan dengan cepat pada telapak tangan
-          Ada 2 uji : Uji Rinne dan Uji Weber
Uji Rinne
-          Membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang
-          Pemeriksa memukulkan garputala 512 Hz pada telapak tangannya dan meletakkan tangkainya pada ujung mastoid
-          Pasien ditanya apakah ia mendengar bunyinya dan diminta untuk memberitahukan kapan ia tidak mendengarnya lagi
-          Kalau pasien sudah tidak mendengarnya, gigi garputala yang sedang bergetar diletakkan di depan meatus auditorius eksternus telinga yang sama, dan pasien ditanya apakah ia masih mendengarnya.
-          Normal : Hantaran udara lebih baik dari hantaran tulang.
-          Pasien akan dapat mendengar garputala pada meatus auditorius eksternus setelah tidak dapat mendengarnya lagi pada ujung mastoid à positif.
Uji Weber
-          Membandingkan hantaran tulang pada kedua telinga
-          Berdirilah di depan pasien dan letakkan garputala 512 Hz yang sedang bergetar dengan kuat di bagian tengah dahi pasien
-          Mintalah pasien untuk menunjukkan apakah ia mendengar atau merasa bunyi pada telinga kanan, kiri, atau tengah dahinya.
-          Mendengar bunyi, merasakan getaran pada bagian tengah adalah respons normal
-          Jika bunyi tersebut tidak terdengar di bagian tengah, dikatakan lateralisasi dan ada gangguan pendengaran.
-          Lateralisasi ke arah telinga yang sakit pada tuli konduktif
-          Lateralisasi pada telinga yang sehat pada tuli sensorineural
Pemeriksaan Otoskopik dengan memakai otoskop
-          Visualisasi struktur telinga dengan baik tidak menuntut didorongnya otoskop ke dalam kanal
-          Bersikap lemah lembut
-          Pilih ukuran speculum yang tepat
-          Cukup kecil untuk menghindari timbulnya rasa tidak enap pada diri pasien
-          Cukup besar untuk memberikan arus cahaya yang memadai.

-          Teknik Pemeriksaan
       Memegang otoskop dengan tangan kanan
       Kanalnya diluruskan oleh tangan kiri pemeriksa yang menarik daun telinga ke atas, luar, dan belakang.
       Makin lurus kanalnya, makin mudah visualisasi dan pemeriksaan akan dirasakan makin nyaman oleh pasien
       Anak : kanal harus diluruskan dengan menarik daun telinga ke bawah dan belakang.
       Pasien diminta memutar sedikit kepala ke samping à pemeriksa lebih nyaman
       Cara I : memegang seperti sebuah pensil, aspek ulnar tangan bersandar pada sisi wajah pasien, menghindari gerakan tiba-tiba, aman untuk anak2
       Cara II : memegang ke arah atas, lebih nyaman, gerakan pasien tiba2 dapat menyebabkan nyeri dan cedera pada pasien.
Inspeksi Kanalis Eksternus
       Dengan hati-hati, masukkan spekulum dan periksalah kanalis eksternus
       Perhatikan kemerahan, bengkak, nyeri tekan à peradangan
       Bebas dari benda asing, skuama, sekret
       Jika ada benda asing, perhatikan kanalis telinga sisi yang lain.
       Serumen harus dibiarkan begitu saja, kecuali mengganggu visualisasi kanalis membran timpani
       Dilakukan oleh pemeriksa berpengalaman à trauma/abrasi, perhatikan sumber sekret
Inspeksi Membran Timpani
       Membran timpani : selaput utuh, translusen, abu-abu seperti mutiara pada akhir kanal
       Tangkai malleus terlihat di dekat bagian tengah membran timpani
       Dari ujung bawah tangkai tersebut, nampak kerucut segitiga terang yang dipantulkan dari pars tensa
       Disebut refleks cahaya yang menuju ke anteroinferior
       Uraikan warna, keutuhan, transparansi, posisi, bagian2 penting membran timpani
       Sakit : pudar, merah, kuning, kongesti, bercak-bercak putih, menonjol, retraksi, perforasi
       Pada pemeriksaan telinga kiri, otoskop dipegang dengan tangan kiri dan meluruskan kanalis dengan tangan kanan.











5.       SISTEM PENGLIHATAN
a.       Gejala utama penyakit mata :
-          Hilangnya penglihatan
-          Nyeri mata
-          Diplopia (penglihatan ganda)
-          Mata berair atau kering
-          Mengeluarkan sekret
-          Mata merah
b.      Alat-alat Pemeriksaan Mata
1)      Oftalmoskop
2)      Senter saku
3)      Kartu ketajaman visual saku
4)      Kertu berukuran 3 - 5
c.       Pemeriksaan Fisik Mata meliputi :
1)      Tajam Penglihatan
2)      Lapangan pandangan
3)      Gerakan mata
4)      Struktur mata interna dan eksterna
5)      Pemeriksaan oftalmoskopi
6)      Tajam Penglihatan
a)      Diungkapkan dalam rasio 20/20
b)      Angka pertama : jarak baca pasien terhadap peraga
c)       Angka kedua : jarak terbacanya peraga oleh mata normal
d)      Istilah OD berarti mata kanan
e)      OS mata kiri
f)       OU berarti kedua mata
g)      Memakai Kartu Snellen Standar :
-          Pasien harus berdiri sejauh 6 meter dari kartu
-          Jika memakai kacamata, biarkan dipakai terus selama pemeriksaan
-          Pasien diminta untuk menutup satu matanya dengan telapak tangan dan membaca baris terkecil yang mungkin
-          Jika yang dapat ia baca ialah baris 6/60 maka visus mata itu ialah 6/60
-          Berarti bahwa pada jarak 6 meter pasien dapat mebaca apa yang dapat dibaca orang normal pada jarak 60 m
-          Jika pasien pada jarak 6 meter tidak dapat membaca baris 6/60, maka ia didekatkan pada kartu sampai baris itu terbaca
-          Jika pasien baru dapat membaca pada jarak 1 m, maka tajam penglihatan pasien ialah 1/60.
h)      Menilai Pasien dengan Penglihatan Buruk
-          Diuji dengan kemampuan membaca jari tangan
-          Menunjukkan jari di depan mata pasien, mata sebelah ditutup
-          Pasien ditanyakan jumlah jari yang terlihat
-          Jika pasien tetap belum dapat melihat, maka penting untuk dinilai apakah memang masih ada persepsi terhadap cahaya
-          Hal ini dilakukan dengan menutup satu mata dan menyoroti mata sebelah
-          Pemeriksa menanyakan apakah pasien dapat melihat lampu yang nyala atau dimatikan
-          NLP (no light perception) adalah istilah yang dipakai bila seorang tidak dapat menangkap cahaya.
i)        Memeriksa pasien yang tidak dapat membaca
-          Bagi mereka yang tidak dapat membaca, seperti anak kecil atau yang buta huruf, pemakaian huruf ‘E’ dalam macam-macam ukuran dan arah akan sangat bermanfaat
-          Pemeriksa meminta pasien menunjukkan arah huruf itu: ke atas, ke bawah, ke kanan dan ke kiri.
j)        Lapangan Pandangan
-          Uji lapangan pandangan berguna untuk menetapkan lesi pada jalur penglihatan
-          Teknik Uji lapangan pandangan konfrontasi
-          Pemeriksa membandingkan penglihatan perifernya dengan penglihatan perifer pasien
k)      Menilai Lapangan Pandangan dengan Uji Konfrontasi
-          Pemeriksa berdiri atau duduk 1 m di depan dan setinggi tatap mata pasien
-          Pasien diminta menutup mata kanannya sedangkan pemeriksa menutup mata kirinya, masing-masing melihat hidung yang dihadapinya
-          Pemeriksa menjulurkan satu atau dua jari pada masing-masing tangan secara serentak
-          Menanyakan pasien berapa jari tangan yang dilihatnya.
-          Tangan digerakkan dari kuadran atas ke kuadran bawah dan  dan pemeriksaan diulang kembali
-          Pemeriksaan diulangi dengan mata sebelah
-          Jari-jari harus terlihat oleh pasien dan pemeriksa secara bersamaan
-          Agar lebih menguntungkan si pasien, tangan diangkat sedikit lebih dekat pada si pemeriksa
-          Hal ini memberi pasien pandangan yang lebih luas
-          Jika pemeriksa dapat melihat jari-jari- itu, maka pasien pasti juga melihatnya, kecuali ada gangguan penglihatan berupa kurang luasnya lapangan pandangan.
-          Daerah tanpa penglihatan disebut skotoma
l)        Gerak Mata
-          Pemeriksaan kesesuaian mata
-          Melakukan Uji Tutup
-          Menilai posisi utama pandangan mata
-          Menilai refleks cahaya pupil
-          Menilai refleks dekat
m)    Pemeriksaan kesesuaian mata
-          Mengawasi lokasi cahaya yang dipantulkan oleh kornea
-          Lampu senter diarahkan tepat dari depan pasien
-          Jika pasien memandang lurus jauh ke depan, pantulan cahaya akan tampak tepat di pusat masing-masing kornea
-          Jika cahaya jatuh pada pusat satu kornea dan menyimpang dari pusat pada kornea lain, maka terdapat mata berdeviasi.
-          Keadaan mata berdeviasi atau mata juling, disebut strabismus atau tropia
-          Strabismus adalah ketidaksesuaian mata sehingga objek yang diamati tidak diproyeksikan secara bersamaan pada fovea masing-masing mata
-          Esotropia : deviasi mata ke arah nasal
-          Eksotropia : deviasi mata ke arah temporal
-          Heterotropia : deviasi ke atas
-          Tropia alternans : mata masing-masing mata berdeviasi.
n)      Uji Tutup
-          Menetapkan apakah mata lurus (normal) atau ada mata berdeviasi
-          Pasien diminta untuk melihat pada sasaran jauh
-          Satu matanya ditutup dengan karton 7,5 x 12,5 cm
-          Pemeriksa harus mengamati mata yang tidak ditutupi
-          Jika mata yang tidak ditutupi itu bergerak sewaktu berfiksasi pada titik dikejauhan itu, maka mata itu tidak lurus sebelum mata sebelahnya ditutupi
-          Jika mata itu tidak bergerak, maka ia lurus
-          Uji ini kemudian dilanjutkan dengan mata di sebelahnya.
o)      Struktur Eksternal dan Internal Mata
-          Kelopak mata
-          Konjungtiva
-          Sklera
-          Kornea
-          Pupil
-          Iris
-          Kamera okuli anterior
-          Aparatus lakrimal
p)      Pemeriksaan Kelopak Mata
-          Kelemahan, infeksi, tumor, kelainan
-          Edema, membuka, menutup (lancar, simetris)
-          Xantelasma (plak kekuningan à kelainan lipid)
-          Distribusi bulu mata
-          Mata terbuka à kelopak atas menutupi tepian atas iris
-          Mata tertutup à kelopak saling merapat
-          Fisura palpebra : jarak kelopak atas - bawah

q)      Pemeriksaan Konjungtiva
-          Radang, pigmentasi, nodi, pembengkakan, perdarahan
-          Konjungtiva tarsal dapat dilihat dengan membalikkan kelopak mata
-          Tahan sejumlah bulu mata dari kelopak atas, tangkai aplikator ditekan pada tepian atas lempeng tarsal
-          Normal : merah muda, sedikit pembuluh darah
r)       Inspeksi Sklera
-          Nodul, hiperemia, perubahan warna
-          Normal : putih, kulit gelap à agak seperti lumpur
s)       Inspeksi Kornea
-          Jernih, tanpa kekeruhan / kabut
-          Cincin keputih-putihan pada perimeter kornea disebut arkus senilis
-          Usia diatas 40 tahun, fenomena penuaan normal, dibawah 40 tahun mungkin hiperkolesterolemia
-          Cincin kuning kehijauan abnormal dekat limbus, kebanyakan ditemukan di superior dan inferior adalah cincin Kayser-Fleischer
-          Spesifik dari Wilson disease (degenerasi hepatolentikular akibat kelainan yang diturunkan dari metabolisme tembaga)
-          Cincin Kayser-Fleischer disebabkan penimbunan tembaga pada kornea.
t)       Inspeksi Pupil
-          Ukuran sama, bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi
-          Anisokoria : tidak sama kiri dan kanan à penyakit neurologik
-          Pembesaran pupil (midriasis) à obat-obatan simpatomimetik, glaukoma, obat tetes dilatasi
-          Kontriksi pupil (miosis) à obat parasimpato-mimetik, peradangan iris, terapi obat glukoma
-          Pupil miotonik Adie : dilatasi pupil 3-6 mm yang sedikit berkontraksi terhadap cahaya dan akomodasi
-          Pupil Argyll Robertson : pupil yang mengecil 1-2 mm, bereaksi terhadap akomodasi, tidak bereaksi terhadap cahaya à neurosifilis
-          Sindrom Horner : paralisis simpatik dari mata yang disebabkan oleh pemutusan pada rantai simpatik servikal.
u)      Inspeksi Iris
-          Iris diperiksa untuk warnanya, apakah ada nodul, dan vaskularitas
-          Normalnya, pembuluh darah iris tidak dapat terlihat dengan mata telanjang
v)      Tekanan intra okuler
-          Tekanan intra okuler meningkat pada glukoma
-          TIO diukur dengan tonometer Schiotz
-          Palpasi bola mata untuk mengetahui tekanan intraokuler merupakan teknik yang sensitivitas sangat rendah.
-          Jika palpasi salah dapat menyebabkan kerusakan seperti ablasi retina, oleh karena itu palpasi mata tidak boleh dilakukan.

6.       SISTEM INTEGUMEN
Anamnesis system integument mencakup :
-          Keluhan utama :
-          Ruam atau lesi kulit
-          Gatal (pruritus)
-          Bengkak
-          Ulkus
-          Perubahan warna kulit
-          Perubahan rambut, kuku
-          Kapan pertama kali memperhatikan adanya ruam?
-          Dimana letaknya? Apakah terasa gatal?
-          Adakah pemicu (misalnya pengobatan, makanan, sinar matahari, dan alergen potensial?
-          Dimana letak benjolan? Apakah terasa gatal? Apakah berdarah? Apakah bentuk/ukuran/warnanya berubah?
-          Adakah benjolan di tempat lain?
-          Bagaimana perubahan warna yang terjadi (misalnya pigmentasi meningkat, ikterus, pucat)?
-          Siapa yang memperhatian adanya perubahan warna?
-          Sudah berapa lama? Bandingkan dengan sebelumnya?
-          Gejala penyerta ? à penurunan BB, artralgia, dll
-          Akibat serius ? à kehilangan cairan, infeksi sekunder, metastatik à kel. Getah bening, organ lain
-          Riwayat Penyakit Dahulu
-          Pernahkah gangguan kulit, ruam, dan lain-lain?
-          Riwayat kecenderungan atopi (asma, rinitis)?
-          Riwayat masalah kulit di masa kecil?
-          Riwayat kondisi medis lain yang signifikan? (Mis, SLE, penyakit seliaka, miositis, atau transplantasi ginjal).
-          Obat-obatan
-          Riwayat pemakaian obat yang lengkap penting bagi semua jenis pengobatan, baik obat resep maupun alternatif, yang dimakan atau topikal
-          Pernahkah pasien menggunakan obat untuk penyakit kulit?
-          Pernahkan / apakah pasien menggunakan imunosupresan?
-          Alergi
-          Apakah pasien memiliki alergi obat? Jika ya, seperti apa reaksi alergi yang timbul?
-          Apakah pasien mengetahui kemungkinan alergen yang lain?
-          Pernahkah pasien menjalani patch test atau pemeriksaan respon IgE?
-          Patch Test
-          Riwayat keluarga
-          Adakah riwayat penyakit kulit atau atopi dalam keluarga?
-          Adakah orang lain di keluarga yang mengalami kelainan serupa?
-          Riwayat Sosial
-          Bagaimana riwayat pekerjaan : apakah terpapar sinar matahari, alergen potensial, atau parasit kulit?
-          Apakah menggunakan produk pembersih baru, hewan peliharaan baru, dan lain-lain?
-          Apakah pasien baru-baru ini bepergian ke luar negeri?
-          Adakah pajanan penyakit infeksi (misalnya cacar air)?
-          Penyelidikan fungsional
-          Fakta utama bagian ini adalah kemungkinan adanya penyakit sistemik yang berkaitan, seperti penyakit seliaka, infeksi parasit, atropati psoriatik, SLE, dan lain-lain
-          Pemeriksaan fisik
-          Terdiri dari inspeksi dan palpasi
-          Alat : lampu senter kecil
-          Apakah pasien sakit ringan atau berat?
-          Apakah pasien tampak pucat, syok, berpigmen, atau demam? (Kondisi kulit serius yang mengenai daerah yang luas pada kulit bisa menyebabkan kehilangan cairan yang membahayakan jiwa dan infeksi sekunder)
-          Apakah kelainan kulit yang ditemukan? Ruam, ulkus, benjolan, diskolorasi, dan sebagainya
-          Kondisi umum pemeriksaan
  Pasien, pemeriksa nyaman
  Pencahayaan optimal, cahaya alami
  Pengamatan cermat – meski tanpa keluhan
  Terpisah, atau bersama-sama diperiksa bila bagian lain tubuh sedang dinilai
  Indikasi menular – sarung tangan
-          Waspada terhadap setiap lesi : membesar, berubah warna
-          Perhatikan warna, kelembaban, turgor, tekstur kulit
-          Perhatikan perubahan warna; sianosis, ikterus, kelainan pigmentasi
-          Lesi vaskular merah ; petekia, purpura, angioma (memucat bila ditekankan kaca obyek)
-          Kelembaban : berlebihan pada demam, emosi, neoplasma, hipertiroidisme. Kering pada menua, miksedema, nefritis, akibat obat tertentu, cari ekskoriasi à pruritus
-          Palpasi : Nilai turgor dan tekstur
-          Turgor : menafsir keadaan hidrasi umum pasien, hidrasi menurun à respons lambat
-          Tekstur : lembut pada hipotiroidisme sekunder, keras pada skleroderma, miksedema, beludru erat dengan sindrom Ehlers-Danlos.
Pemeriksaan fisik Rambut
-          Rambut dan kulit kepala : lesi, alopesia /hirsutisme
-          Pola penyebaran dan tekstur rambut seluruh tubuh
-          Hipotiroidisme à rambut jarang dan kasar
-          Hipertiroidisme à halus
-          Rontok : anemia, keracunan logam berat, hipopituitarisme, gangguan gizi
-          Rambut banyak pada :Cushing, sindrom Stein-Leventhal, neoplasma seperti tumor adrenal, gonad.
Pemeriksaan Dasar Kuku
-          Perubahan dasar kuku tidak patognomonik bagi penyakit khusus
-          Gangguan ginjal, hematopoetik, hepar dapat tampak di kuku
-          Teliti kuku terhadap warna, kerapuhan, perdarahan di bawah kuku, garis-garis atau alur-alur melintang pada kuku atau dasar kuku, dan daerah putih pada dasar kuku yang meluas.
-          Garis Beau : alur melintang sejajar dengan lunula, sering menyertai suatu infeksi, penyakit ginjal, hati
-          Pita mee : garis melintang gurat putih akibat keracunan arsen, penyakit sistemik akut
-          Kuku Lindsay : kuku setengah-setengah (proksimal putih, distal merah atau merah muda)à penyakit ginjal menahun dan azotemia.
-          Kuku Terry : Dasar kuku putih sampai 1 – 2 mm batas distal kuku à sirosis, hipoalbuminemia.
-          Koilonikia : kuku sendok, distrofi dengan lempeng kuku tipis dan timbul depresi mirip mangkuk à anemia defisiensi besi
-          Clubbing (pembesaran ujung distal jari) , manifestasi awal ialah melunaknya jaringan di atas lipat kuku proksimal : penyakit jantung sianotik bawaan, fibrosis kistik, patologi paru
Kulit wajah dan leher
-          Kelopak mata, dahi, telinga, hidung, dan bibir diteliti dengan seksama
-          Selaput lendir mulut dan hidung diteliti terhadap adanya ulkus, perdarahan, telangiektasia.
-          Apakah kulit pada lipat nasolabial dan mulut normal?
Pemeriksaan kulit punggung
-          Amati kulit punggung pasien, adalah lesi?

Kulit dada, perut, ekstremitas bawah
-          Periksa kulit dada dan perut
-          Beri perhatian khusus pada kulit daerah lipat paha dan genital
-          Periksa rambut pubis
-          Angkat skrotum, periksa daerah perineum
-          Daerah pretibial diteliti adanya ulkus
-          Kaki dan telapak kaki diamati dengan cermat adanya perubahan kulit
-          Jari direntangkan untuk menilai jaringan antar jari
-          Amati punggung, bokong, daerah perianal.
-          Makula – daerah perubahan warna kulit yang berbatas jelas dengan kulit normal tanpa tonjolan atau lekukan kulit di sekitarnya
-          Papula – lesi menonjol padat diameter < 0,5 cm
-          Plak – penonjolan diatas permukaan kulit yang mengenai area permukaan yang relatif besar dibandingkan dengan tingginya
-          Indurasi – papula atau plak berbentuk lingkaran atau memiliki puncak yang datar, berwarna merah pucat yang menghilang dalam beberapa jam.
-          Pustula – penonjolan kulit berbatas tegas yang berisi eksudat purulen
-          Vesikula/bulla – lesi menonjol berbatas tegas yang berisi cairan. Vesikula memiliki diameter < 0,5 cm, sedangkan bulla memiliki diameter > 0,5 cm
-          Ulkus – lesi yang menunjukkan kerusakan dermis dan epidermis
-          Kista – rongga tertutup yang berisi cairan atau bahan semi padat
-          Adakah memar atau petekie? Jika ya, dimana letaknya?
-          Periksa kulit, kuku, dan rambut seteliti mungkin, selain itu, periksa rongga mulut dan mata. Bagian kulit mana yang terkena?
-          Adakah perubahan kulit sekunder yang memperberat atau merupakan akibat dari proses primer? Misalnya :
-          Skuama – lapisan deskuamasi stratum korneum
-          Krusta – serum, darah,  atau eksudat purulen yang mengering
-          Erosi – daerah lekukan berbatas tegas akibat hilangnya epidermis
-          Likenifikasi – penebalan kulit akibat sering digosok atau digaruk yang menyebabkan semakin jelasnya garis-garis kulit normal
-          Atrofi – atrofi epidermal akibat berkurangnya lapisan sel-sel epidermal. Atrofi dermal terjadi akibat berkurangnya jaringan ikat dermal
-          Parut – lesi yang terbentuk akibat kerusakan dermal
-          Ekskoriasi – ekskavasi superfisial epidermis akibat garukan
-          Fisura – celah kulit berupa garis yang terasa nyeri.
-          Tentukan perluasan (soliter, lokal, regional, generalisata, atau universal) dan pola distribusi (simetris atau asimetris), daerah pajanan, tempat tekanan, lipatan kulit, atau folikular)?
-          Apakah lokasi berhubungan dengan pakaian, pajanan sinar matahari, atau perhiasan?
-          Bagaimana warna dan bentuk lesi (misalnya bulat, lonjong, poligonal, anular, serpiginosa, bertangkai)?
-          Lakukan palpasi untuk mengetahui suhu, mobilitas, nyeri tekan, dan kedalaman
-          Periksa adanya pembesaran kelenjar getah bening yang drainase
-          Lakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk menganalisis adanya penyakit sistemik.
-          Mungkinkah kelainan ini merupakan manifestasi dari kondisi sistemik serius (keganasan atau SLE)


7.       SISTEM MUSKULOSKELETAL
Anamnesis pemeriksaan system musculoskeletal mencakup keluhan utama dan berbagai riwayat kesehatan. Penyakit sistem muskuloskeletal bisa bermanifestasi sebagai :
-          Nyeri (khususnya pada sendi (artralgia)
-          Deformitas
-          Pembengkakan
-          Mobilitas berkurang
-          Fungsi menurun (misalnya tak dapat berjalan)
-          Gambaran sistemik seperti ruam atau demam
Riwayat penyakit dahulu yang perlu dikaji antara lain :
-          Adakah riwayat kelainan sendi atau tulang sebelumnya?
-          Pernahkah pasien menjalani operasi seperti penggantian sendi?


Obat-obatan
-          Tanyakan pada pasien mengenai analgesik, OAINS, kortikosteroid, imunosupresan lain, penisilinamin, dan klorokuin
Penyelidikan fungsional
-          Tanyakan secara khusus mengenai gambaran sistemik penyakit seperti demam, penurunan berat badan, ruam.
-          Adakah penyakit genitourinarius atau saluran cerna (misalnya pada sindrom Reiter)?
Riwayat sosial
-          Temukan akibat fungsional seperti pasien menjadi tak dapat berjalan, makan, dan sebagainya
-          Alat bantu apa yang digunakan pasien (misalnya kursi roda, kursi-tandu; modifikasi yang dibuat di rumah).
Pemeriksaan fisik system musculoskeletal dilakukan sebagai berikut :
  1. Lihat pasien dan cari adanya deformitas yang terlihat jelas dan postur abnormal
  2. Cari pengecilan otot yang terlihat jelas : apakah massa otot tampak normal? Lihat bahu, pantat, tangan, dan otot kuadriseps
  3. Cari kelainan terkait; misalnya, nodul reumatoid, tofi gout, psoriasis, atau tanda-tanda penyakit rematologis sistemik.
  4. Periksa sendi untuk mencari adanya pembengkakan, deformitas, efusi, eritema, dan nilailah kisaran gerak aktif dan pasif pasien.
  5. Periksa tangan
-          Lakukan inspeksi untuk mencari deformitas sendi, kelainan kuku, nyeri tekan sendi (termasuk menekan lembut di sekitar sendi MCP), dan pembengkakan
-          Cari pengecilan otot (misalnya tonjolan tenar atau hipotenar) dan fasikulasi.
-          Periksa gerak: fleksi, ekstensi, aduksi, dan oposisi ibu jari.
-          Periksa fleksi, ekstensi, aduksi, dan abduksi jari tangan.
-          Kepalkan tangan dan lakukan gerak mencubit
-          Periksa fungsi tangan pasien (misalnya menulis dan mengancingkan pakaian).
f.        Periksa pergelangan tangan
-          Lakukan inspeksi untuk mencari deformitas sendi, pembengkakan, dan nyeri tekan
-          Periksa gerak fleksi, ekstensi, deviasi ulnaris, dan deviasi radialis

  1. Periksa siku
-          Lakukan inspeksi untuk mencari deformitas, nodul reumatoid, dan bursa
-          Periksa gerak fleksi, ekstensi, pronasi, dan supinasi.
  1. Periksa bahu dan sendi sternoklavikularis
-          Lakukan inspeksi untuk mencari deformitas sendi, pembengkakan, dan nyeri tekan
-          Periksa gerak abduksi, adduksi, rotasi internal dan eksternal, serta fleksi dan ekstensi.
-          Anda bisa minta pasien untuk ‘meletakkan tangan di belakang kepala’.
  1. Periksa sendi temporomandibularis, dan tulang belakang
-          Lakukan inspeksi tulang belakang untuk mencari deformitas, kifosis abnormal, skoliosis, dan lordosis
-          Lihat kesejajaran kurva prosesus spinosus, cari adanya ‘tangga’, kemudian lakukan palpasi untuk mencari nyeri tekan dan spasme otot yang berhubungan.
  1. Periksa sendi temporomandibularis, dan tulang belakang
-          Vertebra servikalis
}  Periksa gerak aktif dan pasif dari leher
}  Periksa fleksi, ekstensi, fleksi lateral, dan rotasi
}  Lihat kisaran gerak pasien dan nyeri lokal atau pada ekstremitas atas
-          Vertebra torakalis
}  Periksa saat pasien membalikkan tubuh sambil duduk dengan lengan terlipat
}  Periksa ekspansi dada: pasien harus bisa mengembangkan > 5 cm
  1. Periksa sendi temporomandibularis, dan tulang belakang
-          Vertebra lumbalis
}  Periksa kisaran gerak pasien: minta pasien menyentuh jari kaki dengan lutut tetap lurus.
}  Nilailah ekstensi, fleksi lateral, dan rotasi.
-          Vertebra sakro-iliaka
}  Lakukan palpasi sendi.
}  ‘Lentingkan’ sendi dengan memberikan tekanan kuat ke arah bawah pada sendi saat pasien dalam posisi telungkup
}  Saat pasien terlentang, fleksikan sebelah panggul sambil menahan sebelah lagi tetap ekstensi
  1. Periksa sendi temporomandibularis, dan tulang belakang
-          Tes regangan saraf
}  Periksa dengan pasien mengangkat tungkai lurus-lurus (straight leg raising, SLR) ± dorsofleksi kaki.
}  Lakukan tes regangan femoralis: saat pasien dalam posisi telungkup, fleksikan lutut dan kemudian ekstensikan tungkai pada sendi panggul
}  Periksa tungkai untuk mencari pengecilan otot dan fasikulasi
  1. Periksa panggul
-          Cari adanya perbedaan panjang tungkai dan rotasi abnormal
-          Minta pasien berdiri dengan sebelah kaki dan kemudian kaki yang sebelah lagi.
-          Periksa fleksi, ekstensi, abduksi, dan adduksi
-          Lakukan tes Thomas (fleksi panggul di sisi berlawanan bisa mengungkapkan deformitas fleksi yang terfiksir pada panggul di satu sisi).
  1. Periksa lutut
-          Adakah deformitas atau efusi? Lakukan ketukan patella
-          Periksa stabilitas sendi pada arah anterior-posterior (ligamentum krusiatum):
-          Tes Lachmann (pasien berbaring terlentang dengan kaki fleksi 300, paha ditahan dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menarik tibia ke depan. Hasil tes abnormal bila timbul gerak tibia ke depan yang meningkat).
-          Tes tarikan anterior (pasien berbaring terlentang dan kaki ditahan 900  dan gerak tibia ke depan dinilai)
-          Tes tarikan posterior (periksa pasien dalam posisi terlentang dengan kaki fleksi 900 dan periksa tibia untuk mencari subluksasi posterior dan koreksinya dengan gerak tibia ke anterior).
-          Adakah nyeri tekan pada sendi (menunjukkan adanya cedera pada meniskus)?
-          Lakukan tes Mc Murray (bunyi ‘pop’ dan gejala sepanjang garis sendi saat lutut dalam posisi ekstensi dan rotasi internal menunjukkan adanya cedera pada meniskus).
-          Periksa gerak fleksi dan ekstensi
  1. Periksa pergelangan kaki
-          Lakukan inspeksi untuk mencari deformitas.
-          Periksa plantar-fleksi, dorsofleksi, eversi, dan inversi
  1. Periksa kaki
-          Lakukan inspeksi untuk mencari deformitas; misalnya, pes cavus, hallux valgus, atau kalositas.
-          Periksa dorsofleksi ibu jari kaki
-          Pes cavus
-          Hallux valgus
-          Kalositas
  1. Lakukan inspeksi cara berjalan
-          Lihat mantap atau tidaknya, kecepatan, panjang langkah, ayunan lengan, kepincangan, penggunaan salah satu kaki lebih dominan dibandingkan yang lain, dan kemampuan untuk berbelok
-          Lakukan tes tumit-jari kaki.
-          Adakah tanda-tanda spastisitas, kaki menyeret (foot drop), parkinsonisme, apraksia (gangguan gerak kompleks walaupun fungsi motorik dan sensorik normal), ataksia (cara berjalan yang canggung dan meluas), dan sebagainya?



DAFTAR REFERENSI

Bekcley, Lynn S. 2009. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan. Edisi 8. EGC. Jakarta.

Gleadle, Jonathan. 2005. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Erlangga Medical Series. Jakarta.

Prihardjo, Robert. 1996. Pengkajian Fisik Keperawatan. EGC. Jakarta

Swartz, Mark H. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. EGC. Jakarta.

Kamis, 05 Januari 2012

5. Sistem informasi keperawatan berbasis komputer


         Seiring dengan globalisasi, perkembangan pengetahuan dan teknologi, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mulai berkembang.  Perkembangan pengetahuan masyarakat membuat masyarakat lebih menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.  Dalam upaya peningkatan mutu, seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi berikut dengan dokumentasinya. 

Pendokumentasian Keperawatan  merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990).  Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan

Masalah yang sering muncul dan dihadapi di Indonesia dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan.  Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian  yang lengkap.( Hariyati, RT., th 1999) 

Saat ini masih banyak perawat yang belum menyadari bahwa tindakan yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan. Selain itu banyak pihak menyebutkan kurangnya dokumentasi juga disebabkan karena banyak yang tidak tahu data apa saja yang yang harus dimasukkan, dan bagaimana cara mendokumentasi yang benar.( Hariyati, RT., 2002)

Kondisi tersebut di atas membuat perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian pada pelayanan kesehatan pada umumnya dan pelayanan keperawatan pada khususnya. Selain itu dengan tidak ada kontrol pendokumentasian yang benar maka pelayanan yang diberikan kepada pasien  akan cenderung kurang baik, dan dapat merugikan pasien

Pendokumentasian asuhan keperawatan yang berlaku di beberapa rumah sakit di Indonesia umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis. Pendokumentasian tertulis ini sering membebani perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk mengisinya. Permasalahan  lain yang sering muncul adalah biaya pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak tersedia

Pendokumentasian secara tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering hilang. Pendokumentasian yang  berupa lembaran-lembaran kertas maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip. Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut diperlukan. Dokumentasi yang hilang atau terselip di ruang penyimpanan akan merugikan perawat. Hal ini karena tidak dapat menjadi bukti legal jika terjadi suatu gugatan hukum, dengan demikian perawat berada pada posisi yang lemah dan rentan terhadap gugatan hukum.

Di luar negri kasus hilangnya dokumentasi serta tidak tersedianya  form pengisian tidak lagi menjadi masalah. Hal ini  karena pada rumah sakit yang sudah maju seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan pasien termasuk dokumentasi asuhan keperawatan telah dimasukkan dalam komputer. Dengan informasi yang berbasis dengan komputer diharapkan waktu pengisian form tidak terlalu lama, lebih murah, lebih mudah mencari data yang telah tersimpan dan resiko hilangnya data dapat dikurangi serta dapat menghemat tempat karena dapat tersimpan dalam ruang yang kecil yang berukuran 10 cm x 15 cm x 5  cm . Sistem ini sering dikenal dengan Sistem informasi manjemen.

          Sistem informasi merupakan suatu kumpulan dari komponen-komponen dalam organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem Informasi mempunyai komponen- komponen yaitu proses, prosedur, struktur organisasi, sumber daya manusia, produk, pelanggan, supplier, dan rekanan.  (Eko,I. 2001).

Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Gravea & Cococran,1989)

Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995) system informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan pengetahuan  tentang  standar dokumentasi , komunikasi, mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail, cepat, relevan untuk suatu organisasi.

Sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan sudah berkembang di luar negri sekitar tahun 1992, di mana pada bulan September 1992, sistem informasi diterapkan pada sistem pelayanan  kesehatan Australia khususnya pada pencatatan pasien.  (Liaw, T.,1993).

Pemerintah Indonesia sudah mempunyai visi tentang sistem informasi kesehatan nasional yaitu Informasi kesehatan andal 2010(Reliable Health Information 2010 ). (Depkes, 2001). Pada Informasi kesehatan andal tersebut telah direncanakan untuk membangun system informasi di pelayanan kesehatan dalam hal ini Rumah sakit dan dilanjutkan di pelayanan di masyarakat, namun pelaksanaannya belum optimal.

Sistem informasi manajemen keperawatan  sampai saat ini juga masih sangat minim di rumah sakit Indonesia.  Padahal sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan mempunyai banyak keuntungan jika dilihat dari segi efisien, dan produktifitas.

Dengan sistem dokumentasi  yang berbasis komputer pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan cepat dan lengkap. Data yang telah disimpan juga dapat lebih efektive dan dapat menjadi sumber dari penelitian, dapat melihat kelanjutan dari  edukasi ke pasien, melihat epidemiologi penyakit serta dapat memperhitungkan biaya dari pelayanan kesehatan.(Liaw,T. 1993).  Selain itu dokumentasi keperawatan juga dapat tersimpan dengan aman. Akses untuk mendapat data yang telah tersimpan dapat dilaksanakan lebih cepat dibandingkan bila harus mencari lembaran kertas yang bertumpuk di ruang penyimpanan.

Menurut Herring dan Rochman (1990) diambil dalam Emilia, 2003: beberapa institusi kesehatan yang menerapkan system komputer, setiap perawat dalam tugasnya dapat menghemat sekitar 20-30 menit waktu  yang dipakai untuk dokmuntasi keperawatan dan meningkat keakuratan dalam dokumentasi keperawatan.

Dokumentasi keperawatan dengan menggunakan komputer seyogyanya mengikuti prinsip-prinsip pendokumentasian, serta sesuai dengan standar pendokumentasian internasional seperti: ANA, NANDA,NIC (Nursing Interventions Classification, 2000).

Sistem informasi manajemen berbasis komputer dapat menjadi pendukung pedoman bagi pengambil kebijakan/pengambil keputusan  di keperawatan/Decision Support System dan Executive Information System.(Eko,I. 2001)  Informasi asuhan keperawatan dalam sistem informasi manajemen yang berbasis komputer dapat digunakan  dalam menghitung pemakaian tempat tidur /BOR pasien, angka nosokomial, penghitungan budget keperawatan dan sebagainya. Dengan adanya data yang akurat pada keperawatan maka data ini juga dapat digunakan untuk informasi bagi tim kesehatan yang lain. Sistem Informasi asuhan keperawatan juga dapat menjadi sumber dalam pelaksanaan riset keperawatan secara khususnya dan riset kesehatan pada umumnya.      (Udin,and Martin, 1997)

Sistem Informasi manajemen  (SIM) berbasis komputer banyak kegunaannya, namun pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen di Indonesia masih banyak mengalami kendala. Hal ini mengingat komponen-komponen yang ada dalam sistem informasi yang dibutuhkan dalam keperawatan masih banyak kelemahannya.

Kendala SIM yang lain adalah kekahawatiran hilangnya data dalam satu hard-disk. Pada kondisi tersebut hilangnya data telah diantisipasi sebagai  perlindungan hukum atas dokumen perusahaan yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1997. Undang-undang ini mengatur tentang keamanan terhadap dokumentasi yang berupa lembaran kertas, namun sesuai perkembangan tehnologi,  lembaran yang sangat penting dapat dialihkan dalam   Compact Disk Read Only Memory (CD ROM). CD ROM dapat dibuat kopinya dan disimpan di lain tempat yang aman . Pengalihan ke CD ROM ini bertujuan untuk menghindari hilangnya dokumen karena peristiwa tidak terduga seperti pencurian komputer, dan kebakaran.

Memutuskan untuk menerapkan sistem informasi manajemen berbasis komputer ke dalam sistem praktek keperawatan di Indonesia tidak terlalu mudah. Hal ini karena pihak manajemen harus  memperhatikan beberapa aspek yaitu struktur organisasi keperawatan di Indonesia, kemampuan sumber daya keperawatan, sumber dana, proses dan prosedur informasi serta penggunaan dan pemanfaatan bagi perawat dan tim kesehatan lain.

Bagaimana SIM keperawatan di Indonesia ? Sampai saat ini implementasi sistem informasi manajemen baik di rumah sakit maupun di masyarakat masih sangat minim, bahkan masih banyak perawat yang tidak mengenal apa sistem informasi manajemen keperawatan yang berbasis komputer tersebut.  Namun seiring dengan perkembangan pengetahuan dan ilmu pengetahuan maka beberapa rumah sakit di Jakarta dan kota lain sudah menerapkan system informasi keperawatan yang berbasis komputer.

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia juga mempunyai kontribusi dalam pengembangan system informasi keperawatan. Fakultas ilmu keperawatan telah mempunyai soft-ware system informasi asuhan keperawatan dan system informasi dalam manajemen untuk manajer perawat. Media ini sangat berguna dalam menyokong proses pembelajaran  yang menyiapkan peserta didik dalam menyongsong era globalisasi. Dengan mengikuti pembelajaran  tersebut peserta didik  diharapkan mampu bersaing , namun tentunya tak cukup hanya dalam proses proses pembelajaran di kuliah. Peserta didik harus terus  belajar agar dapat mengikuti perkembangan ilmu dan tehnogi keperawatan. Bagaimana dengan anda, siapkah anda memasuki  era tehnologi dan era globalisasi ?
Dunia keperawatan di Indonesia terus berkembang, seiring dengan meningkatnya strata pendidikan keperawatan di Indonesia, disamping akses informasi yang sangat cepat di seluruh dunia. Hal itu membawa efek pada kemajuan yang cukup berarti di keperawatan (Jasun, 2006). Tenaga perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu dari mulai pengkajian sampai dengan evaluasi.
Keperawatan juga berkewajiban untuk menyediakan pelayanan/asuhan keperawatan yang didasarkan pada kaedah-kaedah suatu profesi termasuk adanya bukti pertanggung jawaban melalui sistem informasi yang tepat yang ditunjukkan oleh sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang baik. Namun pada realitanya dilapangan pendokumentasian asuhan keperawatan yang dilakukan masih bersifar manual dan konvensional, belum disertai dengan sistem /perangkat teknolgi yang memadai, sehingga perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian dalam praktek. Selain itu dalam pelaksanaan dokumentasi keperawatan,  perawat sering mengeluh terhadap dokumentasi yang memakan waktudan terlalu banyak perawat belum sepenuhnya faham menuliskannya.
Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, maka perlu dibuat suatu mekanisme pendokumentasian yang mudah dan cepat berkaitan dengan dokumentasi proses keperawatan.
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka sangat dimungkinkan bagi perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang lebih baik.  Metode pendokumentasian asuhan keperawatan saat sudah mulai menunjukkan perkembangan, dari yang sebelumnya manual, bergeser kearah komputerisasi. Metode pendokumentasian tersebut dengan menggunakan Sistem Informasi Manajemen.
Sistem informasi manajemen berbasis komputer tidak hanya bermanfaat dalam pendokumentasian asuhan keperawatan, namun juga dapat menjadi pendukung pedoman bagi pengambil kebijakan/pengambil keputusan  di keperawatan/Decision Support System dan Executive Information System (Eko,I. 2001).  Informasi asuhan keperawatan dalam sistem informasi manajemen yang berbasis komputer dapat digunakan  dalam menghitung pemakaian tempat tidur /BOR pasien, angka nosokomial, penghitungan budget keperawatan dan sebagainya. Dengan adanya data yang akurat pada keperawatan maka data ini juga dapat digunakan untuk informasi bagi tim kesehatan yang lain. Sistem Informasi asuhan keperawatan juga dapat menjadi sumber dalam pelaksanaan riset keperawatan secara khususnya dan riset kesehatan pada umumnya.            (Udin,and Martin, 1997). Oleh karena itu system sistem informasi manajemen berbasis komputer ini sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh manajemen rumah sakit, dimana aktifitas perawatan dapat termonitor dalam sebuah data base rumah sakit.
Manfaat lain yang dapat diperoleh dari sistem informasi yang berbasis komputer ini ialah system ini sangat praktis karena mampu menyimpan data yang sangat banyak penuh dalam sebuah kotak kecil / hard disk yang berukuran hanya 15x10x 5 cm. Sistem informasi berbasis komputer juga dirancang untuk mengikuti era globalisasi sehingga perawat di Indonesia tidak tertinggal dengan perawat yang diluar negeri.

PUSTAKA ACUAN

Carpenito.  1985.  Nursing diagnosis application to clinical practice. J.B.
        Lippincott Co.,. Philadephia .

Departemen Kesehatan. 2001. Kebijakan dan strategi Pengembangan Sistem Informasi  
      Kesehatan Nasional.  Depkes. RI. Jakarta

Eko, I.R.2001. Manajemen Sistem Informasi dan Tehnologi Informasi.., Jakarta:  
     Kelompok Gramedia

Emiliana, 2003. Sistem informasi keperawatan berbasis komputer yang terintegrasi di
      pelayanan kesehatan Sint Carolus, tidak dipublikasikan

Hafizurrachman, 2000. Sistem Informasi Manajemen di Rumah sakit dan 
       Pelayanan Kesehatan. Tidak dipublikasikan

Hariyati, S. T. 1999. Hubungan antara pengetahuan aspek hukum dari perawat
       dan karakteristik perawat terhadap kualitas dokuemntasi keperawatan di
      RS.Bhakti Yudha, Tidak dipublikasikan

Kozier, E.  1990.  Fundamentals of Nursing.  Addison Wesley Co., Redwood City.

Liaw, T.1993. The Computer Based Patient Record: An Historical Perpective. Diambil
       dari http:// www.hisavic.aus.net/hisa/mag/nov93/the.htm. di akses 8 April 2001

Lindqvist, R. &Sjoden, P. (1998). Coping strategies and quality of life among
       patient on CAPD. Journal of Advanced Nursing

Mc. Closkey. J . 1996. Nursing interventions classivication. Mosby-Year book,
       Daverport

3.Peran Teknologi Informasi untuk Mendukung Manajemen Informasi Kesehatan di Rumah Sakit

A. Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rerata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi (dan komunikasi) saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa. Artikel ini secara khusus akan membahas perkembangan teknologi informasi untuk mendukung manajemen rekam medis secara lebih efektif dan efisien. Tulisan ini akan dimulai dengan berbagai contoh aplikasi teknologi informasi, faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta refleksi bagi komunitas rekam medis.

B. Aplikasi teknologi informasi untuk mendukung manajemen informasi kesehatan
Secara umum masyarakat mengenal produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan infrastruktur. Perangkat keras meliputi perangkat input (keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat keras ini bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk digital agar dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat perangkat keras pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk mengolah serta mengelola sistem komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi komputer. Selain itu, terdapat juga perangkat keras penyimpan data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk). Perangkat keras berikutnya adalah perangkat outuput yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya.
Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Sedangkan perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga program utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.
Pada aspek infrastruktur, kita mengenal ada istilah jaringan komputer baik yang bersifat terbatas dan dalam kawasan tertentu (misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network maupun jaringan yang lebih luas, bahkan bisa meliputi satu kabupaten atau negara atau yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN). Saat ini, aspek infrastruktur dalam teknologi informasi seringkali disatukan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Sehingga muncul istilah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi. Perangkat PDA (personal digital assistant) yang berperan sebagai komputer genggam tetapi sarat dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth maupun GSM) merupakan salah satu contoh diantaranya.
Perangkat keras (baik input, pemroses, penyimpan, maupun output), perangkat lunak serta infrastruktur, ketiga-tiganya memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas maupun efisiensi manajemen informasi kesehatan. Beberapa contoh penting yang akan diulas adalah (1)rekam medis berbasis komputer, (2) teknologi penyimpan portabel seperti smart card,(3) teknologi nirkabel dan (4) komputer genggam.
B.1. Rekam medis berbasis komputer (Computer based patient record)
Salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di rumah sakit adalah penerapan rekam medis medis berbasis komputer. Dalam laporan resminya, Intitute of Medicine mencatat bahwa hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer secara utuh, komprehensif dan dapat dijadikan data model bagi rumah sakit lainnya[1].
Pengertian rekam medis berbasis komputer bervariasi, akan tetapi, secara prinsip adalah penggunaan database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam manajemen pasien di rumah sakit. Rekam medis berbasis komputer akan menghimpun berbagai data klinis pasien baik yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter, digitasi dari alat diagnosisi (EKG, radiologi, dll), konversi hasil pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis. Rekam medis berbasis komputer yang lengkap biasanya disertai dengan fasilitas sistem pendukung keputusan (SPK) yang memungkinkan pemberian alert, reminder, bantuan diagnosis maupun terapi agar dokter maupun klinisi dapat mematuhi protokol klinik.
Gambar 1. Alert tentang permintaan lab yang berlebihan dalam salah satu model aplikasi rekam medis berbasis komputer
B.2. Teknologi penyimpan data portable
Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan pendekatan rujukan (referral system) adalah continuity of care. Dalam konsep ini, pelayanan kesehatan di tingkat primer memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dengan tingkat rujukan di atasnya. Salah satu syaratnya adalah adanya komunikasi data medis secara mudah dan efektif. Beberapa pendekatan yang dilakukan menggunakan teknologi informasi adalah penggunaan smart card (kartu cerdas yang memungkinkan penyimpanan data sementara). Smart card sudah digunakan di beberapa negara Eropa maupun AS sehingga memudahkan pasien, dokter maupun pihak asuransi kesehatan. Dalam smart card tersebut, selain data demografis, beberapa data diagnosisi terakhir juga akan tercatat. Teknologi penyimpan portabel lainnya adalah model web based electronic health record yang memungkinkan pasien menyimpan data sementara kesehatan mereka di Internet. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi telemedicine yang tidak berjalan secara real time.
Aplikasi penyimpan data portabel sederhana adalah bar code (atau kode batang). Kode batang ini sudah jamak digunakan di kalangan industri sebagai penanda unik merek datang tertentu. Hal ini jelas sekali mempermudah supermarket dan gudang dalam manajemen retail dan inventori. Food and Drug Administration (FDA) di AS telah mewajibkan seluruh pabrik obat di AS untuk menggunakan barcode sebagai penanda obat. Penggunaan bar code juga akan bermanfaat bagi apotik dan instalasi farmasi di rumah sakit dalam mempercepat proses inventori. Selain itu, penggunaan barcode juga dapat digunakan sebagai penanda unik pada kartu dan rekam medis pasien.
Teknologi penanda unik yang sekarang semakin populer adalah RFID (radio frequency identifier) yang memungkinkan pengidentifikasikan identitas melalui radio frekuensi. Jika menggunakan barcode, rumah sakit masih memerlukan barcode reader, maka penggunaan RFID akan mengeliminasi penggunaan alat tersebut. Setiap barang (misalnya obat ataupun berkas rekam medis) yang disertai dengan RFID akan mengirimkan sinyal terus menerus ke dalam database komputer. Sehingga pengidentifikasian akan berjalan secara otomatis.
B. 3. Teknologi nirkabel
Pemanfaatan jaringan computer dalam dunia medis sebenarnya sudah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Pada tahun 1976/1977, University of Vermon Hospital dan Walter Reed Army Hospital mengembangkan local area network (LAN) yang memungkinkan pengguna dapat log on ke berbagai komputer dari satu terminal di nursing station. Saat itu, media yang digunakan masih berupa kabel koaxial. Saat ini, jaringan nir kabel menjadi primadona karena pengguna tetap tersambung ke dalam jaringan tanpa terhambat mobilitasnya oleh kabel. Melalui jaringan nir kabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggun mobilitasnya.
B. 4. Komputer genggam (Personal Digital Assistant)
Saat ini, penggunaan komputer genggam (PDA) menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan klinis tertentu. Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang dapta digunakan di PDA seperti epocrates. Pemanfaatan PDA yang sudah disertai dengan jaringan telepon memungkinkan dokter tetap dapat memiliki akses terhadap database pasien di rumahs akit melalui jaringan Internet. Salah satu contoh penerapan teknologi telemedicine adalah pengiriman data radiologis pasien yang dapat dikirimkan secara langsung melalui jaringan GSM. Selanjutnya dokter dapat memberikan interpretasinya secara langsung PDA dan memberikan feedback kepada rumah sakit.
C. Apa faktor keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer?
Memang, hingga saat ini tidak ada satu rumah sakit di dunia yang dapat menerapkan konsep rekam medis elektronik yang ideal. Namun demikian, beberapa penelitian melaporkan karakteristik dan pengalaman rumah sakit dalam menerapkan rekam medis elektronik. Doolan, Bates dan James[2] mempublikasikan suatu studi tentang keberhasilan penerapan 5 rumah sakit utama di AS yang menerapkan rekam medis berbasis komputer dan mendapatkan penghargaan Computer-Based Patient Record Institute Davies’ Award. Kelimanya adalah :
1. LDS Hospital, Salt Lake City (LDSH) pada 1995
2. Wishard Memorial Hospital, Indianapolis (WMH) tahun 1997
3. Brigham and Women’s Hospital, Boston (BWH) tahun 1996
4. Queen’s Medical Center, Honolulu (QMC) in1999
5. Veteran’s Affairs Puget Sound Healthcare System, Seattle and Tacoma (VAPS) tahun 2000
Kelima rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pendidikan dengan jumlah tempat tidur bervariasi (dari 246-712 TT). Berdasarkan kepemilikan, 3 diantaranya merupakan rumah sakit swasta non profit (no 1, 3 dan 4), 1 merupakan rumah sakit daerah (nomer 2) dan 1 rumah sakit tentara (nomer 5).
Rekam medis elektronis telah diterapkan untuk mendukung pelayanan rawat inap, rawat jalan maupun rawat darurat. Berbagai hasil pemeriksaan laboratoris baik berupa teks, angka maupun gambar (seperti patologi, radiologi, kedokteran nuklir, kardiologi sampai ke neurologi sudah tersedia dalam format elektronik. Disamping itu, catatan klinis pasien yang ditemukan oleh dokter maupun perawat juga telah dimasukkan ke alam komputer baik secara langsung (dalam bentuk teks bebas atau terkode) maupun menggunakan dictation system. Sedangkan pada bagian rawat intensif, komputer akan mengcapture data secara langsung dari berbagai monitor dan peralatan elektronik. Sistem pendukung keputusan (SPK) juga sudah diterapkan untuk membantu dokter dan perawat dalam menentukan diagnosis, pemberitahuan riwayat alergi, pemilihan obat serta mematuhi protokol klinik. Dengan kelengkapan fasilitas elektronik, dokter secara rutin menggunakan komputer untuk menemukan pasien, mencari data klinis serta memberikan instruksi klinis. Namun demikian, bukan berarti kertas tidak digunakan. Dokter masih menggunakannya untuk mencetak ringkasan data klinis pasien rawat inap sewaktu melakukan visit. Di bagian rawat jalan, ringkasan klinis tersebut dicetak oleh staf administratif terlebih dahulu.
Meskipun menggunakan pendekatan, jenis aplikasi serta pengalaman yang berbeda-beda, namun secara umum ada kesamaan faktor yang faktor yang menentukan keberhasilan mereka dalam menerapkan rekam medis berbasis komputer, yaitu:
Leadership, komitmen dan visi organisasi
Leadership dari pimpinan rumah sakit merupakan faktor terpenting. Hal ini ditandai dengan komitmen jangka panjang serta visi sangat jelas. Seringkali klinisi senior yang menjadi leader dalam komputerisasi dan menjalin kerjasama dengan ahli informatika. Selanjutnya komitmen tersebut direalisasikan secara finansial maupun sumber daya manusia.
Bertujuan untuk meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien.
Kunci keberhasilan kedua pengembangan sistem merupakan investasi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien. Saat ini, seiring dengan isyu medical error dan patient safety, kebutuhan pengembangan IT menjadi semakin dominan.
Melibatkan klinisi dalam perancangan dan modifikasi sistem.
Di kelima rumah sakit tersebut, berbagai upaya dilakukan, baik formal maupun non formal untuk melibatkan dokter dan dalam perancangan dan modifikasi sistem. Dokter, perawat maupun tenaga kesehatan lain yang memiliki pengalaman informatik dilibatkan sebagai penghubung antara klinisi dan sistem informasi. Hal ini terutama sangat penting dalam merancangn sistem pendukung keputusan klinis. Salah satu manajer IT mengatakan bahwa “We had over 530 people involved, and doctors hired to help us design screens and everything. The doctors were very much part of the effort.”
Menjaga dan meningkatkan produktivitas klinis
Meskipun diakui bahwa penggunaan komputer menambah beban bagi dokter, tetapi rumah sakit menyediakan fasilitas yang sangat mendukung. Jaringan nir kabel disediakan agar dokter tetap dapat mengakses data secara mobile. Demikian juga, fasilitas Internet memungkinkan mereka memantau perkembangan pasien dari rumah. Komputer juga tersedia secara merata, untuk rawat jalan perbandingan tempat tidur dengan komputer antara 1:3-5, bahkan di LDS 1:1. Sedangkan di unit rawat jalan 1 ruang 1 komputer.
Menjaga momentum dan dukungan terhadap klinisi.
Salah satu dokter mengatakan bahwa “..We demonstrated and talked about it and evangelized the clinical staff that this was something good, something sexy, high tech and innovative and it was going to be expected to be utilized.” Karena kesemuanya adalah rumah sakit pendidikan, setiap residen diharuskan menggunakan komputer untuk mencatat perkembangan pasien. Akan tetapi, memelihara momentum agar dokter dapat menggunakan komputer secara langsung bervariasi, dari 3 tahunan hingga satu dekade.
Pengalaman di atas mengungkapkan bahwa penerapan IT untuk rekam medis merupakan effort yang luar biasa yang tercermin mulai dari leadership pimpinan, komitmen finansial dan SDM, tujuan organisasi, proses perancangan yang melelahkan, networking antara tenaga medis, non medis dan informatik hingga menjaga momentum.
D. Hambatan dan kendala
Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa masih banyak kendala dalam penerapan teknologi informasi untuk manajemen kesehatan di rumah sakit. Jika masih dalam taraf pengembangan sistem informasi transaksi (misalnya data administratif, keuangan dan demografis) problem sosiokltural tidak terlalu kentara. Namun demikian, jika sudah sampai aspek klinis, tantangan akan semakin besar. Di sisi lain, persoalan kesiapan SDM seringkali menjadi pengganjal. Pemahaman tenaga kesehatan di rumah sakit terhadap potensi TI kadang menjadi lemah karena pemahaman yang keliru. Oleh karena itu penguatan pada aspek pengetahuan dan ketrampilan merupakan salah satu kuncinya. Disamping itu, tentu saja adalah masalah finansial. Tanpa disertai dengan bantuan tenaga ahli yang baik, terkadang investasi TI hanya akan memberikan pemborosan tanpa ada nilai lebihnya. Yang terakhir adalah kecurigaan terhadap lemahnya aspek security, konfidensialitas dan privacy data medis.
E. Menerapkan aplikasi
Bagaimana memilih dan menerapkan aplikasi teknologi informasi untuk manajemen kesehatan di rumah sakit?
Ini merupakan pertanyaan krusial yang harus dijawab. Melihat pada pengalaman di atas, kita harus mengembalikan kepada komitmen, visi dan leadership dari organisasi. Apakah ini hanya karena ikut-ikutan atau memang sudah tertuang dalam rencana stratejik rumah sakit? Selain itu, bagaimana implikasi biaya dan sumber daya manusia? Bagaimana menjalin kerjasama antar berbagai komponen di rumah sakit, baik tenaga medis maupun non medis?
Jika pertanyaan tersebut sudah dijawab, kita dapat memilih aplikasi yang sesuai dengan kemampuan organisasi. Langkah yang paling penting adalah pengembangan sistem informasi transaksional (data administratif dan klinis sederhana). Selanjutnya, pengembangan level kedua, yaitu sistem informasi manajemen dan sistem sistem informasi eksekutif(sistem pendukung keputusan) dapat dilakukan kemudian. Aplikasi SMS sebagai reminder bagi ibu hamil untuk memeriksakan secara tepat waktu juga meruapakan salah satu model SPK bagi pasien. Demikian juga model serupa agar jadwal imunisasi bagi balita tidak terlambat. Investasi yang diperlukan cukup dengan komputer yang telah diisi dengan database klinik pasien, nomer HP serta rule mengenai penjadwalan imunisasi. Penerapan jaringan wireless saat ini juga bukan investasi yang mahal. Dan masih seabreg inovasi lain yang dapat dikembangkan.
Dari konteks teknologi informasi dan komunikasi, dapat dikatakan bahwa pelbagai aplikasi sangat potensial sekali diterapkan di dunia medis. Akan tetapi kita harus memperhatikan bahwa hingga saat ini secara kultural, dunia medis, termasuk yang sudah menerapkan infrastruktur elektronik secara canggih sebagian besar transaksi informasi klinis masih berjalan secara face to face[3]. Sehingga tidak salah bila ada yang mengatakan bahwa keberhasilan sistem informasi di rumah sakit 90% merupakan masalah sosial kultural dan hanya 10% saja yang merupakan masalah informatika.
F. Penutup: refleksi bagi komunitas rekam medis
Mengingat pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cukup pesat, komunitas rekam medis perlu memahami berbagai konsep serta aplikasi medical informatics (informatika kedokteran). Informatika kedokteran (kadang disebut juga informatika kesehatan) adalah disiplin yang terlibat erat dengan komputer dan komunikasi serta pemanfaatannya di lingkungan kedokteran dikenal sebagai informatika kedokteran (medical informatics)[4]. Dalam pengertian yang lebih rinci, Shortliffe mendefinisikan informatika kedokteran sebagai berikut: “Disiplin ilmu yang berkembang dengan cepat yang berurusan dengan penyimpanan, penarikan dan penggunaan data, informasi, serta pengetahuan (knowledge) biomedik secara optimal untuk tujuan problem solving dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, informatika kedokteran bersentuhan dengan semua ilmu dasar dan terapan dalam kedokteran dan terkait sangat erat dengan teknologi informasi modern, yaitu komputer dan komunikasi. Kehadiran informatika kedokteran sebagai disiplin baru yang terutama disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan komputer, menimbulkan kesadaran bahwa pengetahuan kedokteran secara esensial tidak akan mampu terkelola (unmanageable) oleh metode berbasis kertas (paper-based methods).”[5]. Lingkup kajian informatika kedokteran meliputi teori dan terapan[6]. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa informatika kedokteran merupakan disiplin ilmu tersendiri.
Secara terapan, aplikasi informatika kedokteran meliputi rekam medik elektronik, sistem pendukung keputusan medik, sistem penarikan informasi kedokteran, hingga pemanfaatan internet dan intranet untuk sektor kesehatan, termasuk merangkaikan sistem informasi klinik dengan penelusuran bibliografi berbasis internet[7]. Dengan demikian, komunitas rekam medis akan memiliki wawasan yang luas mengenai prospek teknologi informasi serta mampu menjembatani klinisi (pengguna dan penyedia utama informasi kesehatan) dengan para ahli komputer (informatika) yang bertujuan merancang desain aplikasi dan sistem agar dapat menghasilkan produk aplikasi manajemen informasi kesehatan di rumah sakit yang lebih efektif dan efisien.
Referensi
[1] Tang PC, Hammond WE. A progress report on computerbased patient records in the United States. In Dick RS, Steen EB, Detmer DE (eds): The Computer-based Patient Record: An Essential Technology for Healthcare, 2nd ed. Washington, DC, National Academy Press, 1997, pp 1–20.
[2] Doolan, DF, Bates DW, James, BC. The Use of Computers for Clinical Care: A Case Series of Advanced U.S. Sites. J Am Med Inform Assoc. 2003;10:94–107.
[3] Coiera, E. Clarke, R. e-Consent: The Design and Implementation of Consumer Consent
Mechanisms in an Electronic Environment. J Am Med Inform Assoc. 2004;11:129–140.
[4] Shortliffe, E.H. Medical informatics meet medical education. 1995 (URL http://www-camis.stanford.edu/projects/smi-web/academics/jama-pulse.html)
[5] Shortliffe EH, Perreault, L.E., Wiederhold G, Fagan, L.M., eds. Medical Informatics: Computer Application in Health Care. Reading, MA: Addison-Wesley; 1990
[6] Greenes R.A., Shortliffe E.H. Medical informatics: An emerging academic discipline and institutional priority. JAMA 1990; 263:1115-1120
[7] Cimino, JJ. Linking Patient Information Systems to Bibliographic Resources. Meth Inform Res 1996; 35:122-6
*)disajikan dalam seminar rekam medis di Surakarta, Agustus 2005

2. SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN DI PUSKESMAS


Puskesmas sebagai salah satu institusi pelayanan umum, dapat dipastikan membutuhkan keberadaan sistem informasi yang akurat dan handal, serta cukup memadai untuk meningkatkan pelayanan puskesmas kepada para pengguna (pasien) dan lingkungan terkait. Dengan lingkup pelayanan yang begitu luas, tentunya banyak sekali permasalahan kompleks yang terjadi dalam proses pelayanan di puskesmas. Banyaknya variabel di puskemas turut menentukan kecepatan arus informasi yang dibutuhkan oleh pengguna dan lingkungan puskesmas.
Selama ini banyak puskesmas yang masih mengelola data-data kunjungan pasien, data-data arus obat, dan juga membuat pelaporan dengan menggunakan cara-cara yang manual. Selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratan dari pengelolaan data juga kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat besar. Beberapa puskesmas mungkin sudah memakai komputer sebagai alat bantu untuk pengelolaan data, hanya saja sampai sekarang belum banyak program komputer yang secara khusus didesain untuk manajemen data di puskesmas.
Sistem Informasi Puskesmas (Simpus), sesuai namanya, adalah sebuah sistem informasi rekam medis yang secara khusus dirancang untuk digunakan di Puskesmas. Puskesmas sebagai institusi pelayanan kesehatan, memiliki kebutuhan-kebutuhan yang unik, berbeda dengan unit pelayanan kesehatan lainnya.
Kebutuhan-kebutuhan Puskesmas yang unik tersebut, telah sejak lama dengan tekun dipelajari dan diikuti perkembangannya oleh seorang teman, Raharjo. Setelah selama beberapa tahun Mas Jojok, demikian ia biasa dipanggil, mengembangkan dan memasarkan Simpus yang berupa aplikasi desktop (yang telah digunakan pada hampir 500 Puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia), pada tahun 2008, ia mengajak kami untuk bersama-sama mengembangkan Simpus yang berbasis web. Keputusan ini diambilnya setelah melihat fakta di lapangan bahwa Simpus berbasis web memiliki peluang memberikan dukungan yang lebih baik pada Puskesmas dalam melayani masyarakat. Dalam waktu kurang lebih setahun semenjak itu, Simpus berbasis web telah digunakan oleh beberapa Puskesmas.
Simpus merekam data rekam medis pasien-pasien yang berkunjung di Puskesmas. Tidak hanya itu, Simpus juga membantu Puskesmas dalam menyusun laporan-laporan rutin bulanan, baik untuk keperluan internal Puskesmas, ataupun untuk pelaporan ke Dinas Kesehatan.
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian utama kami dalam mengembangkan Simpus berbasis web ini:
  1. Kemudahan dalam pengoperasian. Dari pengalaman sejauh ini, dengan pelatihan dua hari, yang dilakukan selepas jam kerja Puskesmas, kebanyakan pengguna sudah memahami alur Simpus dan cara menggunakannya.
  2. Kecepatan proses pengisian data. Sudah sejak lama kami menyadari bahwa pengisian data melalui tampilan berbasis web cenderung lebih lama, bila dibandingkan dengan pengisian data melalui tampilan aplikasi desktop. Kami berupaya meminimalkan waktu pengisian data dengan menyederhanakan alur, tanpa mengurangi kelengkapan data yang diisikan. Pengisian data pada semua titik (ruang pendaftaran, ruang pelayanan medis, dll) secara rata-rata dilakukan dalam waktu 1-2 menit.
  3. Dukungan bantuan kepada pengguna. Kami menyadari bahwa belum banyak petugas Puskesmas yang terbiasa dengan penggunaan aplikasi berbasis web. Proses pembiasaan tentu saja akan membutuhkan waktu, dan dalam proses tersebut mungkin akan ada kendala-kendala yang dijumpai. Dengan dukungan dari petugas setempat, kami selalu berupaya memberikan bantuan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.
Saat ini, Puskesmas yang telah menggunakan Simpus kami adalah:
  • Kota Magelang: Puskesmas Magelang Selatan, Puskesmas Magelang Utara, Puskesmas Botton, Puskesmas Jurangombo, Puskesmas Kerkopan
  • Kabupaten Demak: Puskesmas Karangawen
  • Kabupaten Sukoharjo: Puskesmas Kartasura, Puskesmas Polokarto
  • Kabupaten Bangka Barat: Puskesmas Muntok

SIMPUS dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang secara umum banyak dijumpai di puskesmas. SIMPUS mempunyai tunjuan pengembangan yang jelas, antara lain :
·         Terbangunnya suatu perangkat lunak yang dapat digunakan dengan mudah oleh puskesmas, dengan persyaratan yang seminimal mungkin dari segi perangkat keras maupun dari segi sumber daya manusia yang akan menggunakan perangkat lunak tersebut.
·         Membantu dalam mengolah data puskesmas dan dalam pembuatan berbagai pelaporan yang diperlukan.
·         Terbangunnya suatu sistem database untuk tingkat kabupaten, dengan memanfaatkan data-data kiriman dari puskesmas.
·         Terjaganya data informasi dari puskesmas dan Dinas Kesehatan sehingga dapat dilakukan analisa dan evaluasi untuk berbagai macam penelitian.
·         Terwujudnya unit informatika di Dinas Kesehatan Kabupaten yang mendukung terselenggaranya proses administrasi yang dapat meningkatkan kwalitas pelayanan dan mendukung pengeluaran kebijakan yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Berbagai kendala dalam implementasi SIMPUS ataupun program aplikasi yang sudah pernah dialami di berbagai daerah ikut menjadi masukkan untuk menentukan model pengembangan SIMPUS. Kendala-kendala yang secara umum sering dijumpai di puskesmas antara lain :
1. Kendala di bidang Infrastruktur
Banyak puskesmas yang hanya memiliki satu atau dua komputer, dan biasanya untuk pemakaian sehari-hari di puskesmas sudah kurang mencukupi. Sudah mulai banyak pelaporan-pelaporan yang harus ditulis dengan komputer. Komputer lebih berfungsi sebagai pengganti mesin ketik semata. Selain itu kendala dari sisi sumber daya listrik juga sering menjadi masalah. Puskesmas di daerah-daerah tertentu sudah biasa menjalani pemadaman listrik rutin sehingga pengoperasian komputer menjadi terganggu. Dari segi keamanan, banyak gedung puskesmas yang kurang aman, sering terjadi puskesmas kehilangan perangkat komputer.
2. Kendala di bidang Manajemen
Masih jarang sekali ditemukan satu orang staf atau petugas atau bahkan unit kerja yang khusus menangani bidang data/komputerisasi. Hal ini dapat dijumpai dari tingkat puskesmas ataupun tingkat dinas kesehatan di kabupaten/kota. Pada kondisi seperti ini nantinya akan menjadi masalah untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas data-data yang akan ada, baik dari segi pengolahan dan pemeliharaan data, maupun dari segi koordinasi antar bagian.
3. Kendala di bidang Sumber Daya Manusia
Kendala di bidang SDM ini yang paling sering ditemui di puskesmas. Banyak staf puskesmas yang belum maksimal dalam mengoperasikan komputer. Biasanya kemampuan operasional komputer didapat secara belajar mandiri, sehingga tidak maksimal. Belum lagi dengan pemakaian komputer oleh staf yang kadang-kadang tidak pada fungsi yang sebenarnya.
APLIKASI SIMPUS
Dengan melihat berbagai tujuan dan berbagai kendala diatas, SIMPUS dikembangkan. Kondisi-kondisi yang ada benar-benar menjadi pertimbangan rancangan Aplikasi SIMPUS. Hal utama yang harus diketahui dari SIMPUS ini adalah :
SIMPUS adalah program aplikasi yang dikembangkan khusus dari puskesmas, untuk puskesmas dengan melihat kebutuhan dan kemampuan puskesmas dalam mengelola, mengolah dan memelihara data-data yang ada.
SIMPUS adalah aplikasi yang bersifat single user atau hanya dapat diaplikasikan hanya oleh satu orang pada saat itu. SIMPUS bukan aplikasi multi user yang memungkinkan satu database diolah bersama-sama oleh beberapa staf, dari beberapa ruang pelayanan yang ada di puskesmas.
Dengan luasnya lingkup pekerjaan di puskesmas, maka SIMPUS nantinya akan dikembangkan secara modular, atau terpisah antara program kerja yang satu dengan program kerja yang lain.
Beberapa hal mengenai SIMPUS antara lain :
Menggunakan Sistem Operasi Windows, menampilkan tampilan secara grafis dan mudah digunakan. Untuk proses keluaran data bahkan hampir semua tampilan bisa di akses dengan menggunakan tetikus (mouse).
Menyimpan informasi riwayat kunjungan dari pasien dengan akurat. Penomoran Index yang tepat dan benar akan lebih mempermudah dalam proses pencarian data pasien tertentu.
Input data yang cepat, dengan sumber data dari kartu registrasi pasien. Desain masukkan data yang dikembangkan dengan mengacu pada pengalaman di puskesmas menjadi pertimbangan utama untuk membuat proses entry harus cepat. Dalam kondisi normal hanya butuh waktu dibawah 1 menit untuk memasukkan satu data pasien.
Dapat menampilkan rekapitulasi data pasien dan obat, serta membuat pelaporan LB1 dan LPLPO dengan cepat. Periode keluaran data dapat ditetapkan sesuai dengan kebutuhan, dari data harian, periode harian, mingguan, bulanan atau tahunan.
Dapat menampilkan data 10 Besar / 20 Besar penyakit dengan cepat.
Menampilkan data-data keluaran secara tabel maupun secara grafik dengan cepat.
Dapat digunakan untuk melakukan filter data kunjungan dengan cepat dan mudah, sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
METODOLOGI PENGEMBANGAN
Pengembangan suatu sistem informasi, jelas membutuhkan langkah-langkah dan strategi yang harus dijalankan. Pengembangan tidak dapat dilakukan dengan hanya membeli satu perangkat lunak kemudian dibagikan ke puskesmas yang ada, tetapi juga harus diikuti dengan berbagai langkah secara organisatoris maupun secara operasional. Langkah-langkah pengembangan dapat berupa program pra-implementasi dan program pasca-implementasi. Beberapa langkah yang harus dilakukan antara lain :
Pendataan awal berbagai masalah baik dari segi perangkat keras ataupun calon petugas data.
Pembentukan team informasi baik tingkat puskesmas atau tingkat dinas kesehatan. Team untuk tingkat puskesmas dapat terdiri dari seorang penanggung jawab program, disertai beberapa operator. Sedangkan untuk tingkat dinas kesehatan, mungkin diperlukan satu team khusus untuk mengorganisir alur data dan juga bertanggung jawab untuk manajemen data-data kesehatan. Apabila dimungkinkan dapat dibentuk satu sub dinas Informatika / Pengolahan Data Elektronik.
Inventarisasi data-data dasar, baik untuk tingkat puskesmas ataupun tingkat dinas kesehatan. Data-data dasar itu antara lain : data puskesmas, data petugas medis, data tempat pelayanan kesehatan, data obat-obat gudang farmasi, data diagnosis, dan beberapa data-data dasar lainnya. Data-data ini nantinya akan dikodekan karena SIMPUS akan banyak membutuhkan masukkan data berupa kode.
Sosialisasi data-data dasar. Hal ini perlu dilakukan ke semua staf medis dan petugas di puskesmas supaya lebih mengenal sedini mungkin sistem yang akan dipakai.
Pelatihan petugas SIMPUS. Dalam proses masukkan data, tentunya dibutuhkan petugas khusus yang benar-benar menguasai program SIMPUS. Untuk itu perlu minimal 2 orang dari tiap puskesmas yang harus di beri pelatihan untuk awal pelaksanaan implementasi SIMPUS. Setelah beberapa saat di implementasikan, maka diharapkan staf-staf puskesmas dapat belajar dari petugas yang sudah menguasai.
Ujicoba implementasi. Hal ini dibutuhkan untuk mencoba semua staf, dalam pengisian lembar registrasi pasien, juga untuk mengasah ketrampilan masukkan data dari petugas yang sudah dilatih.
Evaluasi, dilakukan untuk mencari masukkan dan juga memberi masukkan kepada semua pihak yang terkait dalam pengembangan SIMPUS.
BIAYA PENGEMBANGAN
Biaya pengembangan sistem informasi tergantung dari banyaknya puskesmas di tingkat kabupaten beserta kelengkapan fasilitas dari program aplikasi untuk tingkat kabupaten.
Harga program SIMPUS sebesar Rp. 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah). Harga belum termasuk pembuatan peta wilayah untuk puskesmas. Harga dasar bisa berubah tergantung dari lokasi puskesmas.
Harga program SIM Dinkes sebesar Rp. 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), harga termasuk pembuatan gambar peta wilayah untuk pengembangan program sampai fungsi pemetaan penyakit.
Untuk pelatihan petugas operator program SIMPUS, biaya per puskesmas adalah Rp. 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah) untuk Simpus Single User, Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) untuk Simpus Web based. Setiap puskesmas dapat mengirimkan dua calon operator.
Harga belum termasuk transportasi Yogyakarta-daerah tujuan, akomodasi, penginapan beserta Lumpsum untuk trainer sebesar Rp. 750.000,00 (Pulau Jawa) atau Rp. 1 500.000,00 (Luar Pulau Jawa) per hari.
Apabila dikehendaki, dapat dilakukan kunjungan untuk evaluasi dan supervisi per puskesmas, dengan menambah biaya transportasi, akomodasi dan lumpsum.
Perkiraan harga komputer dan printer dengan spesifikasi yang layak untuk digunakan software SIMPUS : Rp. 3 500 000,00 – Rp. 4 500 000,00
SPESIFIKASI KOMPUTER SIMPUS
Spesifikasi minimal komputer yang digunakan untuk menjalankan Program SIMPUS dengan baik :
Prosesor : Pentium III atau di atasnya
RAM : 128 Mb atau lebih
VGA : 4 Mb atau lebih
Hard disk : Minimal 10 Gb
Spesifikasi minimal untuk komputer yang digunakan sebagai pengolah data di Dinas Kesehatan
Prosesor : Pentium IV
RAM : 512 Mb atau lebih
VGA : 4 Mb atau lebih
Hard disk : Minimal 40 Gb
Tentunya dengan kondisi perkembangan teknologi komputer dewasa ini, bukan masalah yang berat untuk mengadakan komputer dengan spesifikasi tersebut. Apabila memungkinkan bahkan dapat digunakan masing-masing dua komputer atau lebih di puskesmas untuk lebih mempercepat proses pengetikan data ke dalam SIMPUS. Untuk transfer data di puskesmas, selain menggunakan disket atau flash disk, juga dapat dihubungan dengan jaringan komputer.